HIDAYAT NUR WAHID BANTAH WAHABI

Jumat, 01 Mei 2009

1 komentar Link ke posting ini  

Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR, mantan Ketua Umum PKS menyatakan : "Saya dan PKS bukan Wahabi". Peryataan ini disampaiikan usai melantik anggota MPR Pengganti Antar Waktu (PAW) di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/4/2009). Dia melanjutkan, Sangatlah tidak logis jika dirinya dicap sebagai antek Wahabi. "Saya pendiri partai politik dan mantan ketua partai. Dari situ saja isu itu fitnah yang mengada-ada," sambungnya. Gerakan Wahabi adalah gerakan yang berkembang di Timur Tengah. Gerakan ini salah satu ciri khasnya adalah membid'ah kan dan mengharamkan partai politik. Begitu pemberitaan di Detik Pemilu, Rabu, 29/4/09. Benarkah Wahhabi seperti itu ? Mengapa Hidayat Nur Wahid dan PKS ketakutan dianggap sebagai Wahabbi ? Siapa (Apa) sebenarnya Wahhabi ?

Kebangkitan Wahabi Sudah Diramalkan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW. Bersabda: Allahumma bârik lanâ fî syâminâ wa fî yamaninâ, qôlû: wa fî najdinâ, qôla: hunâka al-zilâzalu wa al-fitanu wa bihâ yathlu’u qornu asy-syaithâni. Artinya: “Ya Allah, berkatilah Syam dan Yaman kami. Para Shahabat berkata: dan demikian juga Nejd kami. Rasulullah SAW. bersabda: “(Nejd, tidak karena) di sana akan muncul kegoncangan-gegoncangan dan fitnah-fitnah (tuduhan-tuduhan, huru hara, bujukan, cobaan) dan di sana pula akan muncul generasi (sekutu, mata pedang, pemimpin, pengikut) syetan (teroris).” (H.R. Bukhari, Ahmad dan Nasai dari Ibnu Umar ra., Kanzul Ummal, 1989, jil. 12, hal. 300, hadits no. 35118).
”Ramalan” Rasulullah SAW. Pada hadis di atas telah sempurna ketika munculnya Wahabiyah (Wahabisme) yang dimulai dari Uyainah di wilayah Nejd. Wahabiyah, adalah gerakan sosial-politik berdasarkan hukum Islam menurut alam pikiran pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Nejdi (1703-1787/1115-1201 H.
Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Nejdi dalam dakwah-dakwahnya yang sangat radikal, keras, kaku dan tanpa kompromi khususnya terhadap apa yang mereka anggap sebagai bid’ah dan khurafat mendapat perlawanan sengit bukan hanya dari kelompok Ahlussunnah, Kaum Shufi, Thariqat dan Syi’ah akan tetapi dari saudara kandungnya sendiri, Sulaiman, dan sepupunya Abdullah bin Hussein yang mengakibatkan pertumpahan darah antara suku-suku di Yamamah (tanah kelahiran Musailamah Al-kadz-dzab).
Pada periode pertama gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab mendapat dukungan penuh dari penguasa Dariyah, Muhammad bin Sa’ud dan para penerusnya yang terlibat peperangan dengan Syekh Riyad, Dahham bin Dawwas (1747 M) selama 28 tahun. Kemudian persekutuan Wahabiyah-Ibnu Sa’ud menyerang dan menaklukkan Riyadh, seluruh wilayah Nejd, Karbala (kota suci Syi’ah di Irak), Madinah, Makkah dan Jeddah. Pada tahun 1811 M. Imperium Wahabi telah terbentang dari Aleppo di utara ke Lautan Hindia, dari Teluk Persia di front Irak sampai ke Laut Merah di barat.
Imperium dan ekspansi Wahabiyah-Ibnu Sa’ud periode pertama telah menyebabkan kerugian tak terhingga atas jiwa, harta dan situs-situs budaya kaum muslimin dan baru berakhir setelah Dariyah, pusat gerakan Wahabi diduduki pasukan Ibrahim Pasya dari Kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1818 M. Penguasa Nejd, Abdullah bin Sa’ud ketika itu ditangkap, dikirim ke Constantinopel dan dihukum penggal di sana.
Periode kedua gerakan Wahabiyah dimulai tahun 1901, setelah Abdul Aziz II bin Abdurrahman didukung ulama-ulama radikal Wahabi dan Kolonial Inggris di Timur Tengah berhasil memasuki Riyad. Selanjutnya Abdul Aziz berhasil menguasai kembali tanah kekuasaan kakeknya, Nejd pada 1921, Hail, Makkah pada 1924, Madinah dan Jeddah pada 1925. Kekuasaan Wahabi dan Ibnu Sa’ud berlangsung sampai sekarang dengan dukungan Amerika, Inggris dan sekutu-sekutu mereka.
Umat Islam perlu mewaspadai politik adu domba antar umat Islam yang mungkin dimaikan oleh Israel melalui Rabithah Alam Islami, karena organisasi ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan penguasa Saudi Arabia yang sudah berada di dalam kendali Amerika Serikat dan Inggris sedangkan Amerika dan Inggris keduanya tunduk kepada Israel. Sejarah mencatat bagaimana perpecahan umat Islam telah terjadi akibat pemahaman yang sempit dan kaku tentang beberapa ayat Alquran dan Hadits yang menyebabkan munculnya budaya saling mencap sesat dan kafir, dimana pada gilirannya akan membuat energi umat Islam terkuras dengan kedua hal tadi, sedangkan Israel dengan dukungan politik dan finansial sekutunya akan lebih memperkuat cengkramannya atas Palestina.

Apakah Hidayat Nur Wahid dan PKS Wahabi?
Secara aqidah dan syari’ah, Wahabi tidak pernah mengharamkan politik karena Wahabi dalam realitasnya yang sekarang dapat dibagi kepada beberapa kelompok, yaitu:
1. Wahabi Sa’udi : Adalah kelompok pengikut Muhamad Bin Abdul Wahab yang menjadi pendukung Dinasti Sa’ud di Saudi Arabia. Wahabi ini berperan penting untuk mengamankan kedudukan Raja (Sistem Kerajaan) di Saudi Arabia. Kelompok ini giat memberikan bantun keuangan kepada kelompok-kelompok Wahabi di luar negeri untuk menyebarkan ajaran Wahabiyah melalui isu memberantas pemurtadan (Kristenisasi), aliran yang dianggap sesat oleh pola pikir mereka, bid’ah versi wahabi dan lain-lain. Kelompok Wahabi Sa’udi ini sangat logis tidak menyenangi politik atau bisa juga meng-”Haram”-kan politik demi menjaga keharmonisan mereka dengan penguasa Saudi Arabia. Jadi, yang benar adalah bahwa para pengikut Wahabi Sa’udi tidak mau mendirikan partai politik yang akan menjadi oposisi bagi penguasa Ibnu Saud karena mereka berhutang budi kepada pemerintahan dan dinasti tersebut. Adapun melaksanakan dan berpolitik yang mendukung Rezim Sa’udi adalah HALAL bagi mereka. Demikian juga Wahabi di luar Sa’udi biasanya sangat menggandrungi politik, dengan dalil Amal Ma’ruf Nahi Munkar. Adakah para pengikut Wahabi di partai politik seperti PKS, PBB, dan PPP?
2. Wahabi Mishri : Kelompok Wahabi yang menjadi pengikut Sayyid Quthub dengan Ikhwanul Musliminnya. Kelompok ini menjadi ”musuh bebuyutan” Pemerintah Mesir pada khususnya.
3. Wahabi Palestin: Adalah para pengikut Syaikh Taqiudddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir. Kelompok wahabi yang muncul di Palestina ini secara resmi ”mengharamkan” demokrasi, tetapi secara tidak resmi (tidak mengatas namakan Hizbut Tahrir) para pengikutnya sangat aktif bergerak di bidang politik melalui partai politik yang mereka anggap berasaskan Islam guna membackup cita-cita pendirian Khilafah atau Negara Islam. Sebaiknya diadakan penelitian untuk membuktikan ada atau tidak adanya tokoh/pengikut Hizbut Tahrir Indonesia yang menjadi anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
4. Wahabi Afghani : Kelompok wahabi yang sangat radikal, termasuk di dalamnya Thaliban, Jamaah Islamiyah, Al-Qaeda dan organisasi sejenisnya yang tersebar seperti di Irak, Afghanistan, Pakistan (Jamaat’i Islami bentukan Abul ’Ala Maududi), Philipina dan Indonesia.
Walhasil, Wahabi atau bukan Wahabinya Hidayat Nur Wahid dan PKS itu sebenarnya dapat kita lihat dari adanya dilalah (indikasi) gerakan-gerakan mereka dan buku-buku yang mereka tulis yang mengarah ke sana. Akan tetapi kita tidak perlu mendesak siappun untuk mengakui kewahabiannya. Yang penting bangsa Indonesia jangan sampai melilih siapapun orang dan dari golongan apa pun yang menyenangi permusuhan antar maupun intern umat beragama, membesar-besarkan perbedaan pemikiran (tafsiran) keagamaan dan yang senang memprovokasi umat untuk bertindak anarkis atas nama agama.
Di antara kebiasaan buruk sebagian para da’i (muballigh) Wahabi dalam berda’wah adalah menjelek-jelekan kelompok lain yang berseberangan, mencaci maki, memprovokasi umat untuk berbuat anarkis atas nama agama, menganggap sesat bahkan kafir lawan, dan menghalalkan terorisme atas nama agama. Mengenai cara pidato mereka, Rasulullah Saw. telah diberitahu Jibril dalam perjalanan spiritual beliau (Mi’raj) sebagai berikut: ”....SELANJUTNYA RASULULLAH MELIHAT LAGI SUATU KAUM YANG MENGGUNTING-GUNTING BIBIR MEREKA DENGAN GUNTING DARI NERAKA. BILA BIBIR ITU TERGUNTING, KEMUDIAN KEMBALI LAGI SEPERTI BIASA BERULANG KALI. JIBRIL BERKATA : ”MEREKA ITU PARA KHATIB/JURU PIDATO YANG SUKA MENIMBULKAN FITNAH (KERUSUHAN)...”
Wa aakhiru da’wanaa ’anilhamdulillahi rabbil ’alamiin.

KHILAFAH PEPESAN KOSONG HIZBUT TAHRIR

Minggu, 15 Maret 2009

2 komentar Link ke posting ini  

Oleh: Abu Fuad Al-Mawi

Sebagai seorang muslim yang mengerti betul hakikat Islam dan ummatnya sudah pasti sangat merindukan berdirinya Khilafah, karena tanpa seorang Khalifah (Imam) sebagai nakoda Al-Khilafah, maka kehidupan normal (sempurna) kaum Muslimin tidak pernah akan tercapai. Bahkan sejarah para Nabi dan umat mereka masing-masing telah membuktikan akan kenyataan ini. Demikian ini adalah karena Al-Khilafah atau Al-Imamah adalah salah satu Sunnatullah yang tidak pernah berubah. Al-Qur’an dan Sunnah dengan jelas telah memberi tahu kita bahwa jika Allah SWT berkehendak mengaruniai Al-Khilafah atas suatu umat maka Dia pasti mengirim satu atau beberapa Nabi (Rasul)-Nya, yang kemudian diikuti oleh para Khalifah mereka yang meneruskan kepemimpinan para Nabi (Rasul) itu.
Al-Khilafah Al-Haqqah (Khilafah yang benar) adalah Al-Khilafah yang benar-benar didirikan Allah SWT dan sudah pasti bukan hasil rekayasa dan keinginan manusia, bukan pula hasil kampanye “gembar-gembor” khilafah sebagaimana banyak dilakukan saudara-saudar kita dari Hizbut Tahrir dan organisasi semisalnya. Demikian ini telah dijelaskan Allah SWT dengan firman-Nya “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka khalifah (yang berkuasa) dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka menjadi khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik..”

Al-khilafah Al-Masihiyyah (Al-Mahdawiyyah) versus khilafah pepesan kosong Hizbut Tahrir
Sunnah Rasulullah Saw. dan bahkan Sunnah para nabi sebelumnya memberikan gambaran dengan sangat jelas, bahwa adanya Khilafah itu didahului oleh Nubuwwah (Kenabian). Memang dalam Hadits Rasulullah Saw. dinubuwatkan (diramalkan secara pasti) bahwa pada akhirnya Umat Islam akan memperoleh khilafah ‘ala minhaj al-nubuwwah (Khilafah yang berdasarkan system kenabian). Dan ini tidak dapat diusahakan atau dikampanyekan sesuai keinginan sekelompok atau beberapa kelompok Umat Islam. Sepanjang sejarah agama Tauhid, tidak ada al-khilafah al-haqqah yang berdiri hasil dari musyawarah, konperensi atau hasil “gembar-gembor” karena khilafah “pepesan kosong” semacam ini tidak ada contohnya baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Sesuai dengan hadits mutawatir, bahwa Khilafah di akhir zaman ini dipercayakan kepada Isa Ibnu Maryam as atau dikenal dengan Al-Masih Al-Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan) yang secara otomatis dia juga bergelar Al-Mahdi (Imam Mahdi). Hadits menyatakan : Lā mahdiyya illā isa (Tidak ada Imam Mahdi melainkan Isa itu sendiri) dan Kaifa antum idzā nazala ibnu maryama fiikum wa imāmukum minkum (Bagaimana sikap kalian jika turun Isa Ibnu Maryam pada lingkungan kamu sekalian sedang ia bertindak sebagai pemimpin dari kalian juga).
Dengan menggunakan harfu al-takyif (kaifa antum=bagaimana sikap kalian), Rasulullah Saw. nampaknya sudah diberi tahu akan masa mendatang, yakni ketika Al-Masih yang dijanjikan datang di dunia ini banyak dari umat beliau akan yang menentang atau tidak mengakuinya sebagai Al-Masih Al-Mau’ud.
Sesuai dengan gaya bahasa dan sifat-sifat hadits nubuwatan (ramalan pasti) dari Rasulullah Saw. Hadits-hadits tersebut harus difahami dengan menggunakan pendekatan balaghiyyah (gaya bahasa baik secara hakiki maupun majazinya) dan manthiqiyyah (secara logika masuk akal atau tidaknya) dengan senantiasa berorientasi kepada Al-Qur’an disamping dengan menggunakan ulūmu al-hadiits (dirayah atau riwayah) . Jika tidak demikian saya yakin sepandai apapun orang tidak akan berhasil mengkompromikan hadits-hadits itu hingga mencapai kesimpulan yang jelas. Dalam kondisi seperti ini, fungsi Malaikat Jibril akan sangat diperlukan, anda boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat saya ini.
Seperti hadits yang mengatakan bahwa; Nabi Isa ketika datang akan memecahkan salib dan membunuh babi. Secara ilmu hadits, hadits ini sangat sahih karena diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Akan tetapi untuk memahaminya tidak bisa secara hakiki (apa adanya) karena tidak mungkin Al-Masih yang dijanjikan pergi ke sana ke mari mengelilingi dunia untuk merusak salib baik yang berada di gereja, rumah atau yang dipakai kalung oleh orang-orang Kristen di samping harus pergi ke hutan belantara dan peternakan untuk membunuh babi-babi. Dari semenjak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad tidak ada yang diberi tugas seperti ini. Hadits seperti ini harus dipahami secara majazi (majaz mursal) sehingga umat Islam bisa memahami bahwa tugas Masih Mau’ud itu adalah untuk merontokan aqidah Ketuhanan Yesus dan Penebusan Dosa yang sangat erat sekali dengan symbol salib melalui barāhin (argumentasi-argumentasi) yang sangat jitu yang membuktikan bahwa Nabi Isa yang dianggap Tuhan, sebenarnya telah wafat serta dan dikubur di Srinagar Kasmir). Membunuh babi diartikan bahwa Masih Mau’ud atau Imam Mahdi yang digelari Tuhan dengan Khalifatullah Al-Mahdi akan mengajarkan dan menyegarkan kembali semangat untuk mengikuti akhlak Rasulullah Saw. sehingga sifat-sifat babi/hewani manusia bisa diminimalisir atau bahkan bagi orang-orang tertentu dihilangkan.

Sejak Saya duduk di SMP Tjokroaminoto Maja sekitar tahun 1980 sampai mengajar di pesantren Assalam Maja dari 1984 - 1989 saya sudah gandrung dengan masalah Khilafah atau Imamah ini karena memang saya berasal dari Islam Garis Keras dan Islam Politik . Setelah saya pelajari Islam lebih luas dan dalam lagi dengan ajaran-ajaran tasawuf sambil mengesampingkan hayalan mendapatkan kekuasaan dengan “menjual” Islam sebagai komoditasnya. Saya berkesimpulan, bahwa untuk memperoleh kemenangan Islam II di akhir zaman ini segenap umat manusia harus diseru untuk bergabung di dalam Khilafah yang telah didirikan Tuhan melalui Imam Mahdi as. dibawah Panji Lāiaha illallah muhammadurrasūlullah. Hanya Imam Mahdi dan para Khalifahnyalah yang berhak menerima ba’at dari umat Islam. Nabi Saw. dalam hadits At-Thabrani bersabda: “Apabila kalian melihat Al-Mahdi (baik langsung atau tidak) telah muncul maka hendaklah kalian berbai’at kepadanya, karena sesungguhnya ia adalah Khalifatullah Al-Mahdi”. Jadi untuk mengangkat seorang Khalifah terlebih-lebih Khalifah yang memegang kekuasaan politik dan teritorial adalah tidak mungkin, apalagi di Indonesia yang segenap warganya telah terikat dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia. Alangkah malunya umat Islam kalau harus paling duluan mengkhianati Perjanjian Luhur ini.

Walaupun keinginan dan hayalan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah atas dasar ambisi politik dengan agam sebagi kedok tidak mungkin hilang dari muka bumi, kita berharap semoga kelompok-kelompok yang menyuarakan hal itu tidak memaksakan kehendak dan disampaikan secara santun dalam menyuarakannya. Kalau mereka berbuat sebaliknya, maka mereka dapat tidak diragukan lagi sebagai para Perusak Citra Islam terlebih-lebih jika harus dengan ngebom sana ngebom sini melalui aksi-aksi terorisme.

Sifat-sifat Khilafah Al-Masih (Imam Mahdi)
Sifat-sifat Khilafah Al-Masih atau Imam Mahdi as. adalah penjelmaan sifat jamali (indah dan lemah lembut)nya Rasulullah Saw. Khilafah ini murni Khilafah Keagamaan, sama sekali bukan dan tidak bertujuan politik, hal ini diisyaratkan dengan jelas dengan janji Nabi Muhammad Saw. bahwa yang akan datang di akhir zaman adalah Isa Ibnu Maryam, artinya bahwa Khilafah Imam Mahdi atau Al-Masih yang dijanjikan non politik seperti halnya Nabi Isa as dahulu. Nabi Isa as menjadi pemimpin umat Bani Israil tanpa kekuasaan politik di masa penjajahan Romawi, demikian juga halnya Al-Masih akhir zaman akan seperti itu. Kenapa yang dijanjikan itu Isa Ibnu Maryam, bukan Nabi Dawud as, Sulaiman as, atau Musa as. inilah rahasiahnya.
Dengan Khilafah Al-Masihiyyah ini Allah Ta’ala akan membuktikan bahwa Islam bisa menang dan berjaya walaupun tanpa kekuatan senjata atau kekuasaan politik. Hal ini sekaligus jawaban yang jitu atas tuduhan orang-orang non muslim yang menuduh bahwa Islam bisa mencapai masa kejayannya karena menggunakan kekerasan, kekuatan senjata dan politik semata dan bukan dari kebenaran, kesucian dan keindahan Islam itu sendiri.

Usaha Pendirian Al-Khilafah Gagal Total
Konperensi yang bertujuan membentuk khilafah sudah dicoba dari semejak zaman Raja Faisal dari Saudi Arabia atau jaman HOS Tjokroaminoto akan tetapi gagal total. Realistis saja, jika yang muncul dan ingin menjadi Khalifah itu dari Wahabi apa Ahlus-Sunah dan Syi’ah mau menerimanya? Begitu juga sebaliknya. Sekarang HTI yang paling getol mendemontasikan hal itu walaupun dari kalangan mereka belum ada yang berani mencalonkan diri sebagai khalifah kalau pun ada apakah orang-orang NU dan Muhamadiyah akan begitu saja meng-amin-kan? Persoalan teritorial juga merupakan hal yang tidak mungkin dapat dikompromikan, pemerintahan mana yang sudi kekuasaanya dirampas atau paling tidak dibagi dua?
Kegagalan mereka untuk membentuk khilafah disebabkan oleh kekeliruan mereka terhadap system dan prinsif-prinsif Al-Khilafah yang telah dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya di akhir zaman ini. Allah Ta’ala menghendaki bahwa yang akan memimpin umat Islam di akhir zaman adalah berasal dari kaum Akhariin, yang disinyalir dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 3 atau kaum Akhiriin yang disinyalir Surah Al-Waqiah ayat 40. Sinyalemen Al-Qur’an ini didukung oleh hadits-hadits mutawatir yang menyatakan akan turunnya Isa Ibnu Maryam di akhir zaman.

Berdirinya Khilafah Al-Haqqah Sesuai Dengan Kehendak Allah SWT.
Ahmadiyah adalah satu jamaah Islam yang sudah menetapi Sistem Khilafah seratus tahun (seabad) yang lalu dengan perkembangan yang sangat pesat baik di benuia Asia, Eropa, Aprika, Amerika dan Australia. Dalam tempo satu abad saja pengikut Ahmadiyah sudah berjumlah puluhan juta pengikut yang tersebar di ratusan Negara. Ahmadiyah tidak bisa dibendung oleh musuh-musuh mereka walaupun harus dikeroyok dari semenjak kelahirannya tahun 1889.
Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa Khilafah Ahmadiyah berkembang terus dan tidak bisa dihancurkan. Kalau Khilafah ini tidak dikehendaki Allah, mungkin sudah hancur semenjak zaman Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Semoga orang-orang yang memusuhi dan berusaha dengan tidak henti-hentinya untuk membubarkan dan menghancurkan Ahmadiyah tersadar akan kenyataan ini dan berfikir; jangan-jangan Ahmadiyah ini memang ditanam dan dipelihara oleh Allah Yang Maha Gagah, setiap orang yang memusuhinya sama artinya dengan menyatakan Perang Terhadap Allah. Lihatlah negeri pilu Afganistan yang secara langsung dapat kutukan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dengan sebab mereka telah merajam dua orang suci yang telah menjadi pengikut setianya. Lihat pula kondisi Pakistan, negeri pertama yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah aliran minoritas non Muslim dengan segala penganiayaan yang tidak terhitung. Mengalirnya para pengungsi baik yang legal dan illegal dari Afganistan dan Pakistan membuktikan bahwa kedua Negara tersebut benar-benar berada dalam “bara api” kekacauan, kekerasan dan ketidak amanan.
Di Negara kita tercinta, Indonesia; apa yang telah menimpa bangsa Indonesia pasca penyerangan Pusat Jemaat Ahmadiyah di Bogor tahun 2005 lalu? Kalau saja Ahmadiyah tidak diridhai Allah, kenapa bangsa ini tambah menderita dan sengsara dengan berbagai bala bencana yang silih berganti setelah Pusat Ahmadiyah serbu? SAYA SANGAT KHAWATIR, JIKA PENGANIAYAAN DAN ANARKISME TERHADAP AHMADIYAH TIDAK SEGERA DIHENTIKAN BANGSA INI AKAN LEBIH MENDERITA DAN DO’A-DO’A ULAMA UNTUK MENOLAK BALA BENCANA TIDAK AKAN DIKABULKAN TUHAN. RASULULLAH SAW BERSABDA: “BARANGSIAPA MEMUSUHI WALI ALLAH, MAKA ALLAH AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA”. MUNGKINKAH SEKARANG SEDANG TERJADI perang ANTARA TUHAN dengan musuh PARA WALI (IMAM MAHDI)? SEHINGGA TANAH,AIR, ANGIN DAN API MURKA?
Billahi fii sabiililhaq wal hamdulillahi rabbil ‘alamiin
(Tanggapan bisa langsung di blog ini atau ke: Kijagat@Gmail.Com)

إسرائيل واليهود

Senin, 19 Januari 2009

0 komentar Link ke posting ini  

ورد ت كلمة اليهود في القرآن الكريم بصيغة "يهود" أو بصغة "هود". ومن المناسب أن نعرف الفرق بين كلمتي بين بني إسرائيل واليهود.

ترد د اسم "بني إسرائيل" في ٤٨ موضعا من القرآن الكريم، وجاءت كلمة "اليهود" في ۹ مواضع منه، و كلمة "هود" في ۳ مواضع. واذا نظرنا الى هذه المواضع وجدنا أنه كلما أراد القرآن ذكر أتباع دين موسى عليه السلام قال"اليهود" أو "هود" كلما أراد الإشارة إلى نسل يعقوب عليه السلام قال "بني إسرائيل".

وكلمة "هود" في المواضع الثلاثة تقابل كلمة "النصارى" إشارة أتباع الملة اليهودية والملة النصرانية، وكذالك كلمة "اليهود" في تسعة أماكن ورد ت في ثمان منها مقابل كلمة نصارى..مما يدل على أنّ المراد منها الملة الموسوية وليس الشعب الإسرائيلى.

كان إسحاق الإبن الأصغر لسيدنا إبراهم عليه السلام، وهو والد يعقوب عليه السلام الذى أنجب يوسف عليه السلام. وليعقوب عليه السلام مقام خاص عند اليهود ويبنون تفوقهم العرقي بنوتهم. وقد نال لقب إسرائيل من الله تعلى فسمي أولده بنو إسرائيل، إذ ورد في التورة أنّ يعقوب أثناء سفر له صارع شخصا طوال الليل.. و أنّ هذا الشخص كان "الرب" فقال له: ماسمك؟ فقال: يعقوب. فقال لا يُدع اسمك فيما بعد يعقوب بل إسرائيل. لأنك جاهدت مع الله والناس وقدرت. (التكوين ۳۳ : ۲۸ الى ۳۰)

لا شك أنّ بنى إسرائيل قبل المصطفى صلّى الله عليه و سلم قد كفروا بأنبياء كثيرين. ولكنهم كانوا أنبيائهم القوامين من ناحية، و من ناحية أخرى لا شك أنّهم كفروهم أول الأمر ولكن فيما بعد أُ دخلت أحوالهم وإلهاماتهم فى مجموعة كتبهم المقدسة كفرهم بهم مؤقتا، ولم يحدث فرقة قومية، ولم يُحرم القوم من الإلهمات والإنعامات الروحانية التى كانت تأتي عن طريق هؤلاء الأنبياء.