KHILAFAH PEPESAN KOSONG HIZBUT TAHRIR

Minggu, 15 Maret 2009

 

Oleh: Abu Fuad Al-Mawi

Sebagai seorang muslim yang mengerti betul hakikat Islam dan ummatnya sudah pasti sangat merindukan berdirinya Khilafah, karena tanpa seorang Khalifah (Imam) sebagai nakoda Al-Khilafah, maka kehidupan normal (sempurna) kaum Muslimin tidak pernah akan tercapai. Bahkan sejarah para Nabi dan umat mereka masing-masing telah membuktikan akan kenyataan ini. Demikian ini adalah karena Al-Khilafah atau Al-Imamah adalah salah satu Sunnatullah yang tidak pernah berubah. Al-Qur’an dan Sunnah dengan jelas telah memberi tahu kita bahwa jika Allah SWT berkehendak mengaruniai Al-Khilafah atas suatu umat maka Dia pasti mengirim satu atau beberapa Nabi (Rasul)-Nya, yang kemudian diikuti oleh para Khalifah mereka yang meneruskan kepemimpinan para Nabi (Rasul) itu.
Al-Khilafah Al-Haqqah (Khilafah yang benar) adalah Al-Khilafah yang benar-benar didirikan Allah SWT dan sudah pasti bukan hasil rekayasa dan keinginan manusia, bukan pula hasil kampanye “gembar-gembor” khilafah sebagaimana banyak dilakukan saudara-saudar kita dari Hizbut Tahrir dan organisasi semisalnya. Demikian ini telah dijelaskan Allah SWT dengan firman-Nya “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka khalifah (yang berkuasa) dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka menjadi khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik..”

Al-khilafah Al-Masihiyyah (Al-Mahdawiyyah) versus khilafah pepesan kosong Hizbut Tahrir
Sunnah Rasulullah Saw. dan bahkan Sunnah para nabi sebelumnya memberikan gambaran dengan sangat jelas, bahwa adanya Khilafah itu didahului oleh Nubuwwah (Kenabian). Memang dalam Hadits Rasulullah Saw. dinubuwatkan (diramalkan secara pasti) bahwa pada akhirnya Umat Islam akan memperoleh khilafah ‘ala minhaj al-nubuwwah (Khilafah yang berdasarkan system kenabian). Dan ini tidak dapat diusahakan atau dikampanyekan sesuai keinginan sekelompok atau beberapa kelompok Umat Islam. Sepanjang sejarah agama Tauhid, tidak ada al-khilafah al-haqqah yang berdiri hasil dari musyawarah, konperensi atau hasil “gembar-gembor” karena khilafah “pepesan kosong” semacam ini tidak ada contohnya baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Sesuai dengan hadits mutawatir, bahwa Khilafah di akhir zaman ini dipercayakan kepada Isa Ibnu Maryam as atau dikenal dengan Al-Masih Al-Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan) yang secara otomatis dia juga bergelar Al-Mahdi (Imam Mahdi). Hadits menyatakan : Lā mahdiyya illā isa (Tidak ada Imam Mahdi melainkan Isa itu sendiri) dan Kaifa antum idzā nazala ibnu maryama fiikum wa imāmukum minkum (Bagaimana sikap kalian jika turun Isa Ibnu Maryam pada lingkungan kamu sekalian sedang ia bertindak sebagai pemimpin dari kalian juga).
Dengan menggunakan harfu al-takyif (kaifa antum=bagaimana sikap kalian), Rasulullah Saw. nampaknya sudah diberi tahu akan masa mendatang, yakni ketika Al-Masih yang dijanjikan datang di dunia ini banyak dari umat beliau akan yang menentang atau tidak mengakuinya sebagai Al-Masih Al-Mau’ud.
Sesuai dengan gaya bahasa dan sifat-sifat hadits nubuwatan (ramalan pasti) dari Rasulullah Saw. Hadits-hadits tersebut harus difahami dengan menggunakan pendekatan balaghiyyah (gaya bahasa baik secara hakiki maupun majazinya) dan manthiqiyyah (secara logika masuk akal atau tidaknya) dengan senantiasa berorientasi kepada Al-Qur’an disamping dengan menggunakan ulūmu al-hadiits (dirayah atau riwayah) . Jika tidak demikian saya yakin sepandai apapun orang tidak akan berhasil mengkompromikan hadits-hadits itu hingga mencapai kesimpulan yang jelas. Dalam kondisi seperti ini, fungsi Malaikat Jibril akan sangat diperlukan, anda boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat saya ini.
Seperti hadits yang mengatakan bahwa; Nabi Isa ketika datang akan memecahkan salib dan membunuh babi. Secara ilmu hadits, hadits ini sangat sahih karena diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Akan tetapi untuk memahaminya tidak bisa secara hakiki (apa adanya) karena tidak mungkin Al-Masih yang dijanjikan pergi ke sana ke mari mengelilingi dunia untuk merusak salib baik yang berada di gereja, rumah atau yang dipakai kalung oleh orang-orang Kristen di samping harus pergi ke hutan belantara dan peternakan untuk membunuh babi-babi. Dari semenjak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad tidak ada yang diberi tugas seperti ini. Hadits seperti ini harus dipahami secara majazi (majaz mursal) sehingga umat Islam bisa memahami bahwa tugas Masih Mau’ud itu adalah untuk merontokan aqidah Ketuhanan Yesus dan Penebusan Dosa yang sangat erat sekali dengan symbol salib melalui barāhin (argumentasi-argumentasi) yang sangat jitu yang membuktikan bahwa Nabi Isa yang dianggap Tuhan, sebenarnya telah wafat serta dan dikubur di Srinagar Kasmir). Membunuh babi diartikan bahwa Masih Mau’ud atau Imam Mahdi yang digelari Tuhan dengan Khalifatullah Al-Mahdi akan mengajarkan dan menyegarkan kembali semangat untuk mengikuti akhlak Rasulullah Saw. sehingga sifat-sifat babi/hewani manusia bisa diminimalisir atau bahkan bagi orang-orang tertentu dihilangkan.

Sejak Saya duduk di SMP Tjokroaminoto Maja sekitar tahun 1980 sampai mengajar di pesantren Assalam Maja dari 1984 - 1989 saya sudah gandrung dengan masalah Khilafah atau Imamah ini karena memang saya berasal dari Islam Garis Keras dan Islam Politik . Setelah saya pelajari Islam lebih luas dan dalam lagi dengan ajaran-ajaran tasawuf sambil mengesampingkan hayalan mendapatkan kekuasaan dengan “menjual” Islam sebagai komoditasnya. Saya berkesimpulan, bahwa untuk memperoleh kemenangan Islam II di akhir zaman ini segenap umat manusia harus diseru untuk bergabung di dalam Khilafah yang telah didirikan Tuhan melalui Imam Mahdi as. dibawah Panji Lāiaha illallah muhammadurrasūlullah. Hanya Imam Mahdi dan para Khalifahnyalah yang berhak menerima ba’at dari umat Islam. Nabi Saw. dalam hadits At-Thabrani bersabda: “Apabila kalian melihat Al-Mahdi (baik langsung atau tidak) telah muncul maka hendaklah kalian berbai’at kepadanya, karena sesungguhnya ia adalah Khalifatullah Al-Mahdi”. Jadi untuk mengangkat seorang Khalifah terlebih-lebih Khalifah yang memegang kekuasaan politik dan teritorial adalah tidak mungkin, apalagi di Indonesia yang segenap warganya telah terikat dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia. Alangkah malunya umat Islam kalau harus paling duluan mengkhianati Perjanjian Luhur ini.

Walaupun keinginan dan hayalan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah atas dasar ambisi politik dengan agam sebagi kedok tidak mungkin hilang dari muka bumi, kita berharap semoga kelompok-kelompok yang menyuarakan hal itu tidak memaksakan kehendak dan disampaikan secara santun dalam menyuarakannya. Kalau mereka berbuat sebaliknya, maka mereka dapat tidak diragukan lagi sebagai para Perusak Citra Islam terlebih-lebih jika harus dengan ngebom sana ngebom sini melalui aksi-aksi terorisme.

Sifat-sifat Khilafah Al-Masih (Imam Mahdi)
Sifat-sifat Khilafah Al-Masih atau Imam Mahdi as. adalah penjelmaan sifat jamali (indah dan lemah lembut)nya Rasulullah Saw. Khilafah ini murni Khilafah Keagamaan, sama sekali bukan dan tidak bertujuan politik, hal ini diisyaratkan dengan jelas dengan janji Nabi Muhammad Saw. bahwa yang akan datang di akhir zaman adalah Isa Ibnu Maryam, artinya bahwa Khilafah Imam Mahdi atau Al-Masih yang dijanjikan non politik seperti halnya Nabi Isa as dahulu. Nabi Isa as menjadi pemimpin umat Bani Israil tanpa kekuasaan politik di masa penjajahan Romawi, demikian juga halnya Al-Masih akhir zaman akan seperti itu. Kenapa yang dijanjikan itu Isa Ibnu Maryam, bukan Nabi Dawud as, Sulaiman as, atau Musa as. inilah rahasiahnya.
Dengan Khilafah Al-Masihiyyah ini Allah Ta’ala akan membuktikan bahwa Islam bisa menang dan berjaya walaupun tanpa kekuatan senjata atau kekuasaan politik. Hal ini sekaligus jawaban yang jitu atas tuduhan orang-orang non muslim yang menuduh bahwa Islam bisa mencapai masa kejayannya karena menggunakan kekerasan, kekuatan senjata dan politik semata dan bukan dari kebenaran, kesucian dan keindahan Islam itu sendiri.

Usaha Pendirian Al-Khilafah Gagal Total
Konperensi yang bertujuan membentuk khilafah sudah dicoba dari semejak zaman Raja Faisal dari Saudi Arabia atau jaman HOS Tjokroaminoto akan tetapi gagal total. Realistis saja, jika yang muncul dan ingin menjadi Khalifah itu dari Wahabi apa Ahlus-Sunah dan Syi’ah mau menerimanya? Begitu juga sebaliknya. Sekarang HTI yang paling getol mendemontasikan hal itu walaupun dari kalangan mereka belum ada yang berani mencalonkan diri sebagai khalifah kalau pun ada apakah orang-orang NU dan Muhamadiyah akan begitu saja meng-amin-kan? Persoalan teritorial juga merupakan hal yang tidak mungkin dapat dikompromikan, pemerintahan mana yang sudi kekuasaanya dirampas atau paling tidak dibagi dua?
Kegagalan mereka untuk membentuk khilafah disebabkan oleh kekeliruan mereka terhadap system dan prinsif-prinsif Al-Khilafah yang telah dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya di akhir zaman ini. Allah Ta’ala menghendaki bahwa yang akan memimpin umat Islam di akhir zaman adalah berasal dari kaum Akhariin, yang disinyalir dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 3 atau kaum Akhiriin yang disinyalir Surah Al-Waqiah ayat 40. Sinyalemen Al-Qur’an ini didukung oleh hadits-hadits mutawatir yang menyatakan akan turunnya Isa Ibnu Maryam di akhir zaman.

Berdirinya Khilafah Al-Haqqah Sesuai Dengan Kehendak Allah SWT.
Ahmadiyah adalah satu jamaah Islam yang sudah menetapi Sistem Khilafah seratus tahun (seabad) yang lalu dengan perkembangan yang sangat pesat baik di benuia Asia, Eropa, Aprika, Amerika dan Australia. Dalam tempo satu abad saja pengikut Ahmadiyah sudah berjumlah puluhan juta pengikut yang tersebar di ratusan Negara. Ahmadiyah tidak bisa dibendung oleh musuh-musuh mereka walaupun harus dikeroyok dari semenjak kelahirannya tahun 1889.
Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa Khilafah Ahmadiyah berkembang terus dan tidak bisa dihancurkan. Kalau Khilafah ini tidak dikehendaki Allah, mungkin sudah hancur semenjak zaman Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Semoga orang-orang yang memusuhi dan berusaha dengan tidak henti-hentinya untuk membubarkan dan menghancurkan Ahmadiyah tersadar akan kenyataan ini dan berfikir; jangan-jangan Ahmadiyah ini memang ditanam dan dipelihara oleh Allah Yang Maha Gagah, setiap orang yang memusuhinya sama artinya dengan menyatakan Perang Terhadap Allah. Lihatlah negeri pilu Afganistan yang secara langsung dapat kutukan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dengan sebab mereka telah merajam dua orang suci yang telah menjadi pengikut setianya. Lihat pula kondisi Pakistan, negeri pertama yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah aliran minoritas non Muslim dengan segala penganiayaan yang tidak terhitung. Mengalirnya para pengungsi baik yang legal dan illegal dari Afganistan dan Pakistan membuktikan bahwa kedua Negara tersebut benar-benar berada dalam “bara api” kekacauan, kekerasan dan ketidak amanan.
Di Negara kita tercinta, Indonesia; apa yang telah menimpa bangsa Indonesia pasca penyerangan Pusat Jemaat Ahmadiyah di Bogor tahun 2005 lalu? Kalau saja Ahmadiyah tidak diridhai Allah, kenapa bangsa ini tambah menderita dan sengsara dengan berbagai bala bencana yang silih berganti setelah Pusat Ahmadiyah serbu? SAYA SANGAT KHAWATIR, JIKA PENGANIAYAAN DAN ANARKISME TERHADAP AHMADIYAH TIDAK SEGERA DIHENTIKAN BANGSA INI AKAN LEBIH MENDERITA DAN DO’A-DO’A ULAMA UNTUK MENOLAK BALA BENCANA TIDAK AKAN DIKABULKAN TUHAN. RASULULLAH SAW BERSABDA: “BARANGSIAPA MEMUSUHI WALI ALLAH, MAKA ALLAH AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA”. MUNGKINKAH SEKARANG SEDANG TERJADI perang ANTARA TUHAN dengan musuh PARA WALI (IMAM MAHDI)? SEHINGGA TANAH,AIR, ANGIN DAN API MURKA?
Billahi fii sabiililhaq wal hamdulillahi rabbil ‘alamiin
(Tanggapan bisa langsung di blog ini atau ke: Kijagat@Gmail.Com)

1 komentar:

Dildaar Ahmad Dartono mengatakan...

assalamu 'alaikum

Pa kabar di tanah Sumbawa?

Dildaar Ahmad