HIDAYAT NUR WAHID BANTAH WAHABI

Jumat, 01 Mei 2009

1 komentar  

Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR, mantan Ketua Umum PKS menyatakan : "Saya dan PKS bukan Wahabi". Peryataan ini disampaiikan usai melantik anggota MPR Pengganti Antar Waktu (PAW) di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/4/2009). Dia melanjutkan, Sangatlah tidak logis jika dirinya dicap sebagai antek Wahabi. "Saya pendiri partai politik dan mantan ketua partai. Dari situ saja isu itu fitnah yang mengada-ada," sambungnya. Gerakan Wahabi adalah gerakan yang berkembang di Timur Tengah. Gerakan ini salah satu ciri khasnya adalah membid'ah kan dan mengharamkan partai politik. Begitu pemberitaan di Detik Pemilu, Rabu, 29/4/09. Benarkah Wahhabi seperti itu ? Mengapa Hidayat Nur Wahid dan PKS ketakutan dianggap sebagai Wahabbi ? Siapa (Apa) sebenarnya Wahhabi ?

Kebangkitan Wahabi Sudah Diramalkan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW. Bersabda: Allahumma bârik lanâ fî syâminâ wa fî yamaninâ, qôlû: wa fî najdinâ, qôla: hunâka al-zilâzalu wa al-fitanu wa bihâ yathlu’u qornu asy-syaithâni. Artinya: “Ya Allah, berkatilah Syam dan Yaman kami. Para Shahabat berkata: dan demikian juga Nejd kami. Rasulullah SAW. bersabda: “(Nejd, tidak karena) di sana akan muncul kegoncangan-gegoncangan dan fitnah-fitnah (tuduhan-tuduhan, huru hara, bujukan, cobaan) dan di sana pula akan muncul generasi (sekutu, mata pedang, pemimpin, pengikut) syetan (teroris).” (H.R. Bukhari, Ahmad dan Nasai dari Ibnu Umar ra., Kanzul Ummal, 1989, jil. 12, hal. 300, hadits no. 35118).
”Ramalan” Rasulullah SAW. Pada hadis di atas telah sempurna ketika munculnya Wahabiyah (Wahabisme) yang dimulai dari Uyainah di wilayah Nejd. Wahabiyah, adalah gerakan sosial-politik berdasarkan hukum Islam menurut alam pikiran pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Nejdi (1703-1787/1115-1201 H.
Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Nejdi dalam dakwah-dakwahnya yang sangat radikal, keras, kaku dan tanpa kompromi khususnya terhadap apa yang mereka anggap sebagai bid’ah dan khurafat mendapat perlawanan sengit bukan hanya dari kelompok Ahlussunnah, Kaum Shufi, Thariqat dan Syi’ah akan tetapi dari saudara kandungnya sendiri, Sulaiman, dan sepupunya Abdullah bin Hussein yang mengakibatkan pertumpahan darah antara suku-suku di Yamamah (tanah kelahiran Musailamah Al-kadz-dzab).
Pada periode pertama gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab mendapat dukungan penuh dari penguasa Dariyah, Muhammad bin Sa’ud dan para penerusnya yang terlibat peperangan dengan Syekh Riyad, Dahham bin Dawwas (1747 M) selama 28 tahun. Kemudian persekutuan Wahabiyah-Ibnu Sa’ud menyerang dan menaklukkan Riyadh, seluruh wilayah Nejd, Karbala (kota suci Syi’ah di Irak), Madinah, Makkah dan Jeddah. Pada tahun 1811 M. Imperium Wahabi telah terbentang dari Aleppo di utara ke Lautan Hindia, dari Teluk Persia di front Irak sampai ke Laut Merah di barat.
Imperium dan ekspansi Wahabiyah-Ibnu Sa’ud periode pertama telah menyebabkan kerugian tak terhingga atas jiwa, harta dan situs-situs budaya kaum muslimin dan baru berakhir setelah Dariyah, pusat gerakan Wahabi diduduki pasukan Ibrahim Pasya dari Kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1818 M. Penguasa Nejd, Abdullah bin Sa’ud ketika itu ditangkap, dikirim ke Constantinopel dan dihukum penggal di sana.
Periode kedua gerakan Wahabiyah dimulai tahun 1901, setelah Abdul Aziz II bin Abdurrahman didukung ulama-ulama radikal Wahabi dan Kolonial Inggris di Timur Tengah berhasil memasuki Riyad. Selanjutnya Abdul Aziz berhasil menguasai kembali tanah kekuasaan kakeknya, Nejd pada 1921, Hail, Makkah pada 1924, Madinah dan Jeddah pada 1925. Kekuasaan Wahabi dan Ibnu Sa’ud berlangsung sampai sekarang dengan dukungan Amerika, Inggris dan sekutu-sekutu mereka.
Umat Islam perlu mewaspadai politik adu domba antar umat Islam yang mungkin dimaikan oleh Israel melalui Rabithah Alam Islami, karena organisasi ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan penguasa Saudi Arabia yang sudah berada di dalam kendali Amerika Serikat dan Inggris sedangkan Amerika dan Inggris keduanya tunduk kepada Israel. Sejarah mencatat bagaimana perpecahan umat Islam telah terjadi akibat pemahaman yang sempit dan kaku tentang beberapa ayat Alquran dan Hadits yang menyebabkan munculnya budaya saling mencap sesat dan kafir, dimana pada gilirannya akan membuat energi umat Islam terkuras dengan kedua hal tadi, sedangkan Israel dengan dukungan politik dan finansial sekutunya akan lebih memperkuat cengkramannya atas Palestina.

Apakah Hidayat Nur Wahid dan PKS Wahabi?
Secara aqidah dan syari’ah, Wahabi tidak pernah mengharamkan politik karena Wahabi dalam realitasnya yang sekarang dapat dibagi kepada beberapa kelompok, yaitu:
1. Wahabi Sa’udi : Adalah kelompok pengikut Muhamad Bin Abdul Wahab yang menjadi pendukung Dinasti Sa’ud di Saudi Arabia. Wahabi ini berperan penting untuk mengamankan kedudukan Raja (Sistem Kerajaan) di Saudi Arabia. Kelompok ini giat memberikan bantun keuangan kepada kelompok-kelompok Wahabi di luar negeri untuk menyebarkan ajaran Wahabiyah melalui isu memberantas pemurtadan (Kristenisasi), aliran yang dianggap sesat oleh pola pikir mereka, bid’ah versi wahabi dan lain-lain. Kelompok Wahabi Sa’udi ini sangat logis tidak menyenangi politik atau bisa juga meng-”Haram”-kan politik demi menjaga keharmonisan mereka dengan penguasa Saudi Arabia. Jadi, yang benar adalah bahwa para pengikut Wahabi Sa’udi tidak mau mendirikan partai politik yang akan menjadi oposisi bagi penguasa Ibnu Saud karena mereka berhutang budi kepada pemerintahan dan dinasti tersebut. Adapun melaksanakan dan berpolitik yang mendukung Rezim Sa’udi adalah HALAL bagi mereka. Demikian juga Wahabi di luar Sa’udi biasanya sangat menggandrungi politik, dengan dalil Amal Ma’ruf Nahi Munkar. Adakah para pengikut Wahabi di partai politik seperti PKS, PBB, dan PPP?
2. Wahabi Mishri : Kelompok Wahabi yang menjadi pengikut Sayyid Quthub dengan Ikhwanul Musliminnya. Kelompok ini menjadi ”musuh bebuyutan” Pemerintah Mesir pada khususnya.
3. Wahabi Palestin: Adalah para pengikut Syaikh Taqiudddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir. Kelompok wahabi yang muncul di Palestina ini secara resmi ”mengharamkan” demokrasi, tetapi secara tidak resmi (tidak mengatas namakan Hizbut Tahrir) para pengikutnya sangat aktif bergerak di bidang politik melalui partai politik yang mereka anggap berasaskan Islam guna membackup cita-cita pendirian Khilafah atau Negara Islam. Sebaiknya diadakan penelitian untuk membuktikan ada atau tidak adanya tokoh/pengikut Hizbut Tahrir Indonesia yang menjadi anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
4. Wahabi Afghani : Kelompok wahabi yang sangat radikal, termasuk di dalamnya Thaliban, Jamaah Islamiyah, Al-Qaeda dan organisasi sejenisnya yang tersebar seperti di Irak, Afghanistan, Pakistan (Jamaat’i Islami bentukan Abul ’Ala Maududi), Philipina dan Indonesia.
Walhasil, Wahabi atau bukan Wahabinya Hidayat Nur Wahid dan PKS itu sebenarnya dapat kita lihat dari adanya dilalah (indikasi) gerakan-gerakan mereka dan buku-buku yang mereka tulis yang mengarah ke sana. Akan tetapi kita tidak perlu mendesak siappun untuk mengakui kewahabiannya. Yang penting bangsa Indonesia jangan sampai melilih siapapun orang dan dari golongan apa pun yang menyenangi permusuhan antar maupun intern umat beragama, membesar-besarkan perbedaan pemikiran (tafsiran) keagamaan dan yang senang memprovokasi umat untuk bertindak anarkis atas nama agama.
Di antara kebiasaan buruk sebagian para da’i (muballigh) Wahabi dalam berda’wah adalah menjelek-jelekan kelompok lain yang berseberangan, mencaci maki, memprovokasi umat untuk berbuat anarkis atas nama agama, menganggap sesat bahkan kafir lawan, dan menghalalkan terorisme atas nama agama. Mengenai cara pidato mereka, Rasulullah Saw. telah diberitahu Jibril dalam perjalanan spiritual beliau (Mi’raj) sebagai berikut: ”....SELANJUTNYA RASULULLAH MELIHAT LAGI SUATU KAUM YANG MENGGUNTING-GUNTING BIBIR MEREKA DENGAN GUNTING DARI NERAKA. BILA BIBIR ITU TERGUNTING, KEMUDIAN KEMBALI LAGI SEPERTI BIASA BERULANG KALI. JIBRIL BERKATA : ”MEREKA ITU PARA KHATIB/JURU PIDATO YANG SUKA MENIMBULKAN FITNAH (KERUSUHAN)...”
Wa aakhiru da’wanaa ’anilhamdulillahi rabbil ’alamiin.

KHILAFAH PEPESAN KOSONG HIZBUT TAHRIR

Minggu, 15 Maret 2009

1 komentar  

Oleh: Abu Fuad Al-Mawi

Sebagai seorang muslim yang mengerti betul hakikat Islam dan ummatnya sudah pasti sangat merindukan berdirinya Khilafah, karena tanpa seorang Khalifah (Imam) sebagai nakoda Al-Khilafah, maka kehidupan normal (sempurna) kaum Muslimin tidak pernah akan tercapai. Bahkan sejarah para Nabi dan umat mereka masing-masing telah membuktikan akan kenyataan ini. Demikian ini adalah karena Al-Khilafah atau Al-Imamah adalah salah satu Sunnatullah yang tidak pernah berubah. Al-Qur’an dan Sunnah dengan jelas telah memberi tahu kita bahwa jika Allah SWT berkehendak mengaruniai Al-Khilafah atas suatu umat maka Dia pasti mengirim satu atau beberapa Nabi (Rasul)-Nya, yang kemudian diikuti oleh para Khalifah mereka yang meneruskan kepemimpinan para Nabi (Rasul) itu.
Al-Khilafah Al-Haqqah (Khilafah yang benar) adalah Al-Khilafah yang benar-benar didirikan Allah SWT dan sudah pasti bukan hasil rekayasa dan keinginan manusia, bukan pula hasil kampanye “gembar-gembor” khilafah sebagaimana banyak dilakukan saudara-saudar kita dari Hizbut Tahrir dan organisasi semisalnya. Demikian ini telah dijelaskan Allah SWT dengan firman-Nya “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka khalifah (yang berkuasa) dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka menjadi khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik..”

Al-khilafah Al-Masihiyyah (Al-Mahdawiyyah) versus khilafah pepesan kosong Hizbut Tahrir
Sunnah Rasulullah Saw. dan bahkan Sunnah para nabi sebelumnya memberikan gambaran dengan sangat jelas, bahwa adanya Khilafah itu didahului oleh Nubuwwah (Kenabian). Memang dalam Hadits Rasulullah Saw. dinubuwatkan (diramalkan secara pasti) bahwa pada akhirnya Umat Islam akan memperoleh khilafah ‘ala minhaj al-nubuwwah (Khilafah yang berdasarkan system kenabian). Dan ini tidak dapat diusahakan atau dikampanyekan sesuai keinginan sekelompok atau beberapa kelompok Umat Islam. Sepanjang sejarah agama Tauhid, tidak ada al-khilafah al-haqqah yang berdiri hasil dari musyawarah, konperensi atau hasil “gembar-gembor” karena khilafah “pepesan kosong” semacam ini tidak ada contohnya baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Sesuai dengan hadits mutawatir, bahwa Khilafah di akhir zaman ini dipercayakan kepada Isa Ibnu Maryam as atau dikenal dengan Al-Masih Al-Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan) yang secara otomatis dia juga bergelar Al-Mahdi (Imam Mahdi). Hadits menyatakan : Lā mahdiyya illā isa (Tidak ada Imam Mahdi melainkan Isa itu sendiri) dan Kaifa antum idzā nazala ibnu maryama fiikum wa imāmukum minkum (Bagaimana sikap kalian jika turun Isa Ibnu Maryam pada lingkungan kamu sekalian sedang ia bertindak sebagai pemimpin dari kalian juga).
Dengan menggunakan harfu al-takyif (kaifa antum=bagaimana sikap kalian), Rasulullah Saw. nampaknya sudah diberi tahu akan masa mendatang, yakni ketika Al-Masih yang dijanjikan datang di dunia ini banyak dari umat beliau akan yang menentang atau tidak mengakuinya sebagai Al-Masih Al-Mau’ud.
Sesuai dengan gaya bahasa dan sifat-sifat hadits nubuwatan (ramalan pasti) dari Rasulullah Saw. Hadits-hadits tersebut harus difahami dengan menggunakan pendekatan balaghiyyah (gaya bahasa baik secara hakiki maupun majazinya) dan manthiqiyyah (secara logika masuk akal atau tidaknya) dengan senantiasa berorientasi kepada Al-Qur’an disamping dengan menggunakan ulūmu al-hadiits (dirayah atau riwayah) . Jika tidak demikian saya yakin sepandai apapun orang tidak akan berhasil mengkompromikan hadits-hadits itu hingga mencapai kesimpulan yang jelas. Dalam kondisi seperti ini, fungsi Malaikat Jibril akan sangat diperlukan, anda boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat saya ini.
Seperti hadits yang mengatakan bahwa; Nabi Isa ketika datang akan memecahkan salib dan membunuh babi. Secara ilmu hadits, hadits ini sangat sahih karena diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Akan tetapi untuk memahaminya tidak bisa secara hakiki (apa adanya) karena tidak mungkin Al-Masih yang dijanjikan pergi ke sana ke mari mengelilingi dunia untuk merusak salib baik yang berada di gereja, rumah atau yang dipakai kalung oleh orang-orang Kristen di samping harus pergi ke hutan belantara dan peternakan untuk membunuh babi-babi. Dari semenjak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad tidak ada yang diberi tugas seperti ini. Hadits seperti ini harus dipahami secara majazi (majaz mursal) sehingga umat Islam bisa memahami bahwa tugas Masih Mau’ud itu adalah untuk merontokan aqidah Ketuhanan Yesus dan Penebusan Dosa yang sangat erat sekali dengan symbol salib melalui barāhin (argumentasi-argumentasi) yang sangat jitu yang membuktikan bahwa Nabi Isa yang dianggap Tuhan, sebenarnya telah wafat serta dan dikubur di Srinagar Kasmir). Membunuh babi diartikan bahwa Masih Mau’ud atau Imam Mahdi yang digelari Tuhan dengan Khalifatullah Al-Mahdi akan mengajarkan dan menyegarkan kembali semangat untuk mengikuti akhlak Rasulullah Saw. sehingga sifat-sifat babi/hewani manusia bisa diminimalisir atau bahkan bagi orang-orang tertentu dihilangkan.

Sejak Saya duduk di SMP Tjokroaminoto Maja sekitar tahun 1980 sampai mengajar di pesantren Assalam Maja dari 1984 - 1989 saya sudah gandrung dengan masalah Khilafah atau Imamah ini karena memang saya berasal dari Islam Garis Keras dan Islam Politik . Setelah saya pelajari Islam lebih luas dan dalam lagi dengan ajaran-ajaran tasawuf sambil mengesampingkan hayalan mendapatkan kekuasaan dengan “menjual” Islam sebagai komoditasnya. Saya berkesimpulan, bahwa untuk memperoleh kemenangan Islam II di akhir zaman ini segenap umat manusia harus diseru untuk bergabung di dalam Khilafah yang telah didirikan Tuhan melalui Imam Mahdi as. dibawah Panji Lāiaha illallah muhammadurrasūlullah. Hanya Imam Mahdi dan para Khalifahnyalah yang berhak menerima ba’at dari umat Islam. Nabi Saw. dalam hadits At-Thabrani bersabda: “Apabila kalian melihat Al-Mahdi (baik langsung atau tidak) telah muncul maka hendaklah kalian berbai’at kepadanya, karena sesungguhnya ia adalah Khalifatullah Al-Mahdi”. Jadi untuk mengangkat seorang Khalifah terlebih-lebih Khalifah yang memegang kekuasaan politik dan teritorial adalah tidak mungkin, apalagi di Indonesia yang segenap warganya telah terikat dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia. Alangkah malunya umat Islam kalau harus paling duluan mengkhianati Perjanjian Luhur ini.

Walaupun keinginan dan hayalan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah atas dasar ambisi politik dengan agam sebagi kedok tidak mungkin hilang dari muka bumi, kita berharap semoga kelompok-kelompok yang menyuarakan hal itu tidak memaksakan kehendak dan disampaikan secara santun dalam menyuarakannya. Kalau mereka berbuat sebaliknya, maka mereka dapat tidak diragukan lagi sebagai para Perusak Citra Islam terlebih-lebih jika harus dengan ngebom sana ngebom sini melalui aksi-aksi terorisme.

Sifat-sifat Khilafah Al-Masih (Imam Mahdi)
Sifat-sifat Khilafah Al-Masih atau Imam Mahdi as. adalah penjelmaan sifat jamali (indah dan lemah lembut)nya Rasulullah Saw. Khilafah ini murni Khilafah Keagamaan, sama sekali bukan dan tidak bertujuan politik, hal ini diisyaratkan dengan jelas dengan janji Nabi Muhammad Saw. bahwa yang akan datang di akhir zaman adalah Isa Ibnu Maryam, artinya bahwa Khilafah Imam Mahdi atau Al-Masih yang dijanjikan non politik seperti halnya Nabi Isa as dahulu. Nabi Isa as menjadi pemimpin umat Bani Israil tanpa kekuasaan politik di masa penjajahan Romawi, demikian juga halnya Al-Masih akhir zaman akan seperti itu. Kenapa yang dijanjikan itu Isa Ibnu Maryam, bukan Nabi Dawud as, Sulaiman as, atau Musa as. inilah rahasiahnya.
Dengan Khilafah Al-Masihiyyah ini Allah Ta’ala akan membuktikan bahwa Islam bisa menang dan berjaya walaupun tanpa kekuatan senjata atau kekuasaan politik. Hal ini sekaligus jawaban yang jitu atas tuduhan orang-orang non muslim yang menuduh bahwa Islam bisa mencapai masa kejayannya karena menggunakan kekerasan, kekuatan senjata dan politik semata dan bukan dari kebenaran, kesucian dan keindahan Islam itu sendiri.

Usaha Pendirian Al-Khilafah Gagal Total
Konperensi yang bertujuan membentuk khilafah sudah dicoba dari semejak zaman Raja Faisal dari Saudi Arabia atau jaman HOS Tjokroaminoto akan tetapi gagal total. Realistis saja, jika yang muncul dan ingin menjadi Khalifah itu dari Wahabi apa Ahlus-Sunah dan Syi’ah mau menerimanya? Begitu juga sebaliknya. Sekarang HTI yang paling getol mendemontasikan hal itu walaupun dari kalangan mereka belum ada yang berani mencalonkan diri sebagai khalifah kalau pun ada apakah orang-orang NU dan Muhamadiyah akan begitu saja meng-amin-kan? Persoalan teritorial juga merupakan hal yang tidak mungkin dapat dikompromikan, pemerintahan mana yang sudi kekuasaanya dirampas atau paling tidak dibagi dua?
Kegagalan mereka untuk membentuk khilafah disebabkan oleh kekeliruan mereka terhadap system dan prinsif-prinsif Al-Khilafah yang telah dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya di akhir zaman ini. Allah Ta’ala menghendaki bahwa yang akan memimpin umat Islam di akhir zaman adalah berasal dari kaum Akhariin, yang disinyalir dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 3 atau kaum Akhiriin yang disinyalir Surah Al-Waqiah ayat 40. Sinyalemen Al-Qur’an ini didukung oleh hadits-hadits mutawatir yang menyatakan akan turunnya Isa Ibnu Maryam di akhir zaman.

Berdirinya Khilafah Al-Haqqah Sesuai Dengan Kehendak Allah SWT.
Ahmadiyah adalah satu jamaah Islam yang sudah menetapi Sistem Khilafah seratus tahun (seabad) yang lalu dengan perkembangan yang sangat pesat baik di benuia Asia, Eropa, Aprika, Amerika dan Australia. Dalam tempo satu abad saja pengikut Ahmadiyah sudah berjumlah puluhan juta pengikut yang tersebar di ratusan Negara. Ahmadiyah tidak bisa dibendung oleh musuh-musuh mereka walaupun harus dikeroyok dari semenjak kelahirannya tahun 1889.
Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa Khilafah Ahmadiyah berkembang terus dan tidak bisa dihancurkan. Kalau Khilafah ini tidak dikehendaki Allah, mungkin sudah hancur semenjak zaman Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Semoga orang-orang yang memusuhi dan berusaha dengan tidak henti-hentinya untuk membubarkan dan menghancurkan Ahmadiyah tersadar akan kenyataan ini dan berfikir; jangan-jangan Ahmadiyah ini memang ditanam dan dipelihara oleh Allah Yang Maha Gagah, setiap orang yang memusuhinya sama artinya dengan menyatakan Perang Terhadap Allah. Lihatlah negeri pilu Afganistan yang secara langsung dapat kutukan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dengan sebab mereka telah merajam dua orang suci yang telah menjadi pengikut setianya. Lihat pula kondisi Pakistan, negeri pertama yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah aliran minoritas non Muslim dengan segala penganiayaan yang tidak terhitung. Mengalirnya para pengungsi baik yang legal dan illegal dari Afganistan dan Pakistan membuktikan bahwa kedua Negara tersebut benar-benar berada dalam “bara api” kekacauan, kekerasan dan ketidak amanan.
Di Negara kita tercinta, Indonesia; apa yang telah menimpa bangsa Indonesia pasca penyerangan Pusat Jemaat Ahmadiyah di Bogor tahun 2005 lalu? Kalau saja Ahmadiyah tidak diridhai Allah, kenapa bangsa ini tambah menderita dan sengsara dengan berbagai bala bencana yang silih berganti setelah Pusat Ahmadiyah serbu? SAYA SANGAT KHAWATIR, JIKA PENGANIAYAAN DAN ANARKISME TERHADAP AHMADIYAH TIDAK SEGERA DIHENTIKAN BANGSA INI AKAN LEBIH MENDERITA DAN DO’A-DO’A ULAMA UNTUK MENOLAK BALA BENCANA TIDAK AKAN DIKABULKAN TUHAN. RASULULLAH SAW BERSABDA: “BARANGSIAPA MEMUSUHI WALI ALLAH, MAKA ALLAH AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA”. MUNGKINKAH SEKARANG SEDANG TERJADI perang ANTARA TUHAN dengan musuh PARA WALI (IMAM MAHDI)? SEHINGGA TANAH,AIR, ANGIN DAN API MURKA?
Billahi fii sabiililhaq wal hamdulillahi rabbil ‘alamiin
(Tanggapan bisa langsung di blog ini atau ke: Kijagat@Gmail.Com)

إسرائيل واليهود

Senin, 19 Januari 2009

0 komentar  

ورد ت كلمة اليهود في القرآن الكريم بصيغة "يهود" أو بصغة "هود". ومن المناسب أن نعرف الفرق بين كلمتي بين بني إسرائيل واليهود.

ترد د اسم "بني إسرائيل" في ٤٨ موضعا من القرآن الكريم، وجاءت كلمة "اليهود" في ۹ مواضع منه، و كلمة "هود" في ۳ مواضع. واذا نظرنا الى هذه المواضع وجدنا أنه كلما أراد القرآن ذكر أتباع دين موسى عليه السلام قال"اليهود" أو "هود" كلما أراد الإشارة إلى نسل يعقوب عليه السلام قال "بني إسرائيل".

وكلمة "هود" في المواضع الثلاثة تقابل كلمة "النصارى" إشارة أتباع الملة اليهودية والملة النصرانية، وكذالك كلمة "اليهود" في تسعة أماكن ورد ت في ثمان منها مقابل كلمة نصارى..مما يدل على أنّ المراد منها الملة الموسوية وليس الشعب الإسرائيلى.

كان إسحاق الإبن الأصغر لسيدنا إبراهم عليه السلام، وهو والد يعقوب عليه السلام الذى أنجب يوسف عليه السلام. وليعقوب عليه السلام مقام خاص عند اليهود ويبنون تفوقهم العرقي بنوتهم. وقد نال لقب إسرائيل من الله تعلى فسمي أولده بنو إسرائيل، إذ ورد في التورة أنّ يعقوب أثناء سفر له صارع شخصا طوال الليل.. و أنّ هذا الشخص كان "الرب" فقال له: ماسمك؟ فقال: يعقوب. فقال لا يُدع اسمك فيما بعد يعقوب بل إسرائيل. لأنك جاهدت مع الله والناس وقدرت. (التكوين ۳۳ : ۲۸ الى ۳۰)

لا شك أنّ بنى إسرائيل قبل المصطفى صلّى الله عليه و سلم قد كفروا بأنبياء كثيرين. ولكنهم كانوا أنبيائهم القوامين من ناحية، و من ناحية أخرى لا شك أنّهم كفروهم أول الأمر ولكن فيما بعد أُ دخلت أحوالهم وإلهاماتهم فى مجموعة كتبهم المقدسة كفرهم بهم مؤقتا، ولم يحدث فرقة قومية، ولم يُحرم القوم من الإلهمات والإنعامات الروحانية التى كانت تأتي عن طريق هؤلاء الأنبياء.

SERANGAN ISRAEL KE GAZA "GALI KUBUR SENDIRI"

Sabtu, 17 Januari 2009

0 komentar  


Assalamu 'alaikum wr.wb.
Kepada segenap umat Islam, saya mengajak antum semua untuk segera berdo'a, beramal dan bertindak sesuai tuntunan ajaran Islam untuk mengakhiri KEZALIMAN MURAKKAB ZIONIS ISRAEL di Palestina. Insya Allah, pada waktunya ISRAEL HANYA AKAN MENYENDIRI DAN DITINGGALKAN PARA PELINDUNGNYA. SERANGAN MEREKA KE GAZA DI AWAL TAHUN 2009 INI AKAN MENGHANCURKAN MEREKA SENDIRI. Insya Allah NUBUWWATAN RASULULLAH SAW. TENTANG MEREKA SEMAKIN GENAP TERBUKTI.
"Cintai makhluk Tuhan jika ingin dicintai-Nya dan hindari pertikaian atas nama agama/akidah".
Wa akhiru da'wanaa anilhamdulillahi rabbil 'alamiin.

OPEN TERM “SILIWANGI” and “PRABU SILIWANGI”

Minggu, 14 Desember 2008

0 komentar  

BY: Ki Waras Jagat

Word “Siliwangi” come from word silih that mean successor or router and fragrant that mean fragrant or fragrant. Thereby, meaning from name Prabu Siliwangi has explanation that him successor or router prabu fragrant (Wangisutah) that fall at town square Bubat Majapahit in Bubat War year 1357 m in defend honour and authority Pajajaran kingdom.

At that time, group from Pajajaran Kingdom (Galuh) have an eye to to marry off his daughter is daughter Diyah Pitaloka with king Hayam Wuruk on proposal the king. When group of woman bride candidate stops and make pasangrahan at town square Bubat while wait king fetching Hayam Wuruk (man bride candidate). Apparently noble intention Prabu Wangi (Wangisutah) and king Hayam Wuruk not wish for by Patih Gajah Mada, he holds" secret movement" is not known by the king self. Gajah Mada with the troop very big surround and invade bride group so that causes to fall it the Mokteng Bubat (Prabu Wangi), daughter Diyah Pitaloka and the guards.

As to term Prabu Siliwangi First am Prabu Wastu Kancana that move kingdom centre Pajajaran from Kawali (Ciamis) to Pakuan (Bogor). In government time Prabu Wangi, Prabu Siliwangi First and Prabu Siliwangi Second Pajajaran Kingdom under one power or in word other Pasundan east and Pasundan west ally be one power.

After Rahiyang Wastu Kancana died, Kingdom of Pasundan divided two; that is east Pajajaran Kingdom at Kawali Ciamis under Ningrat Kancana and Pakuan Kingdom (West Pajajaran) at Bogor be power Prabu Susuktunggal. In time Prabu Siliwangi Second that's pasundan ally again be Pakuan Pajajaran with his capital town at Bogor.

TERORISM, FUNDAMENTALISM AND ANARCHISM IN PROPHECY MUHAMMAD S.A.W.

Sabtu, 13 Desember 2008

0 komentar  


By. Ki Waras Jagat Pakuan

Hadits first, Rasulullah may Allah Ta’ala bless him and give him peace said: Allah Ta’alaumma bârik lanâ fî shô'inâ wa mudinâ wa makkatinâ wa madînatinâ wa bârik lanâ fî syâminâ wa yamaninâ, faqôla rojulun: wa 'irôqinâ, qôla: inna fîhâ qorna asy-syaithôni wa tahayyuja al-fitani; wa inna al-jifâ'a bilmasyiq. Mean: "Oh Allah, bless in scales and our dosage, also about our Makkah and Madinah, and bless also our Sham and Yaman. Say a man: And also our Irak. Rasulullah may Allah Ta’ala bless him and give him peace answer: " (For Irak not) because to him will appear generation (ally, sword eye, leader, follower) shetan (devil) and flare up it slanders (accusation, disturbance, persuasion, test); actually coarse character (violence) that resides in east. " (Thabrani from Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, Kanzul ‘Ummal, 1989, volume. 12, matter. 300, Hadits no. 35116)
H
adits second, Rasulullah may Allah Ta’ala bless him and give him peace said: Allah Ta’alaumma bârik lanâ fî syâminâ wa fî yamaninâ, qôlû: wa fî najdinâ, qôla: hunâka al-zilâzalu wa al-fitanu wa bihâ yathlu'u qornu asy-syaithâni. Mean: "Oh Allah, bless our Sham and Yaman. Prophet friend say: and and so do our Nejd. Rasulullah may Allah Ta’ala bless him and give him peace said: "(Nejd, not because) there appear chaos and slanders (accusations, disturbance, persuasion, test) and there also will appear generation (ally, sword eye, leader, follower) syetan" (Bukhari, Ahmad and Nasai from Ibnu Umar radhiyallahu’anhu. Kanzul ‘Ummal, 1989, volume. 12, matter. 300, Hadits no. 35118).

Appearance khawarijism, wahabism and Al-Qaeda Terorism complete " prophecy "Rasulullah may Allah Ta’ala bless him and give him peace. Subhanallah, "prophecy" (nubuwwatan) Hadits first genuinely even, try us see beginning movement appearance beginning fundamentalism, terrorism and anarchist in history ummat Islam with sect appearance khawarij. Khawarij people who out from caliph front Ali bin Abi Talib Karramallahu wajhahu, after this caliph gets offer tahkim (arbitration) submitted side the opponent, Mu'awayah bin Abi Sofyan, and stop war siffin (657/37 h) according to them, caliph Ali bin Abi Talib as true side should devolve war siffin that until troop Mu'awiyah as crashed resister side or bow to valid caliph. they assemble at harura, near city kufah (at Irak) and lift Ibnu Abdul Wahhab ar-rasibi as moslem leader (leader). Thereby they incarnate to be one sect or group in Islam. Khawarij beginning this known also with group al-muhakkimah, but they often voice "there is no hakam (judge) besides Allah " and "there is no law besides Allah law" . (Indonesia Islam Encyclopedia, 1992, matter. 553).
Sheikh Muhyiddin al-khoyyat write: group khawarij stiff famous and over do in religion problem. they are consider unbeliever people who not same opinion with them, allow blood one who differ opinion with them and doesn't receptive law rule that formulated human. they are consider unbeliever people who does big sin, they don't be receptive hadis prophet unegual the explanation according to exactly with alquran and they are in realize nash only from side born it merely. (Islam Resurrection History and Arabian World Situation, 1994, matter. 118).
"Prophecy" Rasulullah may Allah Ta’ala bless him and give him peace. in hadis second perfect also when does appearance wahabiyah (wahabisme) that begun from Uyainah at area Nejd. Wahabiyah, socio-politic movement based on Islam law follows the founder way of thinking, Muhammad bin Abdul Wahhab al-Nejdi (1703-1787/1115-1201 h.
Muhammad bin Abdul Wahhab al-Nejdi in invitations very radical, hard, stiff and without compromise especially towards what they consider to be bid'ah and khurafat get bitter opposition bot merely from group Ahlussunnah, shufiyah, thariqat and Syi'ah but from brother contain it self, Sulaiman, and the cousin Abdul bin Hussein that cause wars between terms at Yamamah (soil births Musailamah al-kadz-dzab).
In movement first period Muhammad bin Abdul Wahhab gets full support from administrator Dariyah, Muhammad bin Sa'ud and the routers in concerned battle with sheikh Riyad, Dahham bin Dawwas (1747 m) during 28 year. Then partnerships wahabiyah -Ibnu Sa'ud assault and subjugate Riyadh, entire areas Nejd, Karbala (Syi'ah holy city at Irak), Madinah, Makkah and Jeddah. in the year 1811 m. empire wahabi sweeting from aleppo at north to Indian ocean, from persian gulf at Irak front to red sea at west.
Empire and expansion wahabiyah-Ibnu Sa'ud first period causes infinite loss on soul, treasure and muslims class culture sites and end new after dariyah, movement centre wahabi occupied troop Ibrahim pasya from Khilafa Turkish Utsmani year 1818 m. Administrator Nejd, Abdul bin Sa'ud at the time caught, sent to constantinopel and punished piece there.
Movement second period wahabiyah is begun year 1901, after Abdul Aziz II bin Abdurrahman supported radical religious teachers wahabi and English colonial government in the east middle success enter Riyad. Furthermore Abdul Aziz success dominate to return the grandfather power soil, Nejd in 1921, Hail, Makkah in 1924, Madinah and Jeddah in 1925. power wahabi and Ibnu Sa'ud go on up to now with America support, English and their allies.
Islam people necessary guard against play one against another policies delivers Islam people may be perfominged by Israely passes Rabithah Alam Islami, because this organization very has been influenced by administrator wisdom Saudi Arabia that reside in in united America rein and Britania while America and Britania both bow to Israely. History has registerred to how Islam people dissension has happened narrow comprehension consequence and stiff about several verses Alquran and Hadits that causes culture appearance mutual stamp to deviate and unbeliever, where in turn make Islam people energy be be drained both the things a while ago, while Israely with policies support and financial the ally more will brace grip on Palestinian.
Movement New Khawarij and wahabi anarchist in Indonesia after reformation movement and shift down it President Soeharto in 1998 movements New Khawarij, wahabi radical even terrorism Al-Qaeda in Indonesia return to get fresh wind and begin to show their spirit truthfully, they are openly make time religion organization, bring to life rumorss khilafah, syari'ah Islamiyah, amar ma'ruf nahi munkar even Indonesia Islam country rumors.
Radicalism, fundamentalis, terrorism and anarchist khawarij and wahabiyah many adopted by Jamaah Islamiyah (JI), Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Islam Pleader Front (FPI), and Indonesia Hizbut Tahrir (HTI). They act very dare and arogan at midst policies shake system and law in Indonesia. Aim to apply syari'ah or Islam law radically at area NKRI for them not again be taboo something that and closed.
Side other, they get stumbling block stone very heavy when must face Ahmadiyya, because Ahmadiyya only jamaah factually and juridical menetapi carry out khilafa system non policies with based on to Al-Qur'an and Assunnah, while they are campaign khilafah policies (khilafah "pepesan Kosong" ) according to proposition syar'i not the period again and not may be be realized. Such this declared Rasulullah may Allah Ta’ala bless him and give him peace in Hadits mutawatir maknawi, where is he promised Jesus arrival Ibnu Maryam according to majazi that mean that khilafah at end this period al-khilafah ghairu siyâsiyyah (khilafah non policies).
Various anarchist group action very cross out Islamic religion rahmatan lil'alamin they have done, with scream “Allah Akbar “ lofty they invade and botch mosques, house and even pillage ones property Ahmadiyya at various region in Indonesia. Formerly caliph Ali tease class khawarij his utterance anarchist: "Allah Akbar”, right pronunciation but misuse. (Islam Resurrection History and Arabian World Situation, 1994, matter. 119).
Really ironic where on this day, week, 01 June 2008 when should every Indonesian return grateful, muse, and recall to return services the proklamator independence ri that dig five principles from Indonesia original earth. obvious even stained by offence, anarchist action bleeds and brutal of Islam Pleader Front Group (FPI) and Leader Islam Army Command Munarman on Nationality Alliance for Latitudinarian and Principled (AKKBB) that will do peace action will commemorate to born it five principles at bational monument. television media and print success transcribe and hold message and that savage offence event, where assailants not again can to distinguish which parents, woman and children.
Really, for a offence moslem will bleed such will be a religion polluting. and so do for a nationalist that appreciate country constitution that thing will be humiliation towards five principles, ham and even NKRI that done in front of national monument whom we are proud. Good government and every Indonesian soon realize danger before very eyes that threaten unitary NKRI and Bhineka Tunggal Ika. Indonesian must dare to stop action infringement country constitution, law and play judge self that done by whoever Alhamdulillah Rabbil ’alamin.

PENERAPAN SYARI’AT ISLAM DIBALIK DESAKAN PEMBUBARAN AHMADIYAH

Senin, 09 Juni 2008

4 komentar  

Oleh: Ki Waras Jagat Pakuan


Sebagai seorang muslim yang dibesarkan dan didik di lingkungan Syarikat Islam (SI), penulis semenjak kecil telah dikenalkan dengan hidup berorganisasi bahkan berpolitik praktis. Ketika PSII berubah menjadi SI (“SI” Ibrahim), keluarga saya menjadi anggota dan mendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP), penulis sendiri ikut berjuang mendukung PPP dalam beberapa proses Pemilu di zaman Orde Baru walaupun terkadang harus mendapatkan diskriminasi dan intimidasi oknum-oknum penguasa ketika itu.

Pada masa itu, penulis mempunyai keyakinan bahwa hanya dengan mendukung partai Islamlah, syari’at Islam akan bisa ditegakkan. Demikian juga halnya dengan 8 kata dalam Piagam Jakarta (Jakarta Charter yang berbunyi: ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya diharapkan bisa kembali diperjuangkan untuk dimasukkan dalam Sila Pertama dari Pancasila. Cita-cita akan terealisasinya penegakkan syari’at Islam secara kaffah di seluruh wilayah Indonesia menjadi semangat hidup penulis.

Penulis sangat menggandungi buku-buku Islam Politik, seperti buku Piagam Jakarta karya H.Endang Saifuddin Anshari (ketika itu beliau aktif mengajar di fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung) dan buku-buku K.H. Mohammad Natsir, tokoh besar Masyumi dan lain-lain. Mendengarkan ceramah-ceramah “panas” anti asas tunggal Pancasila para tokoh Islam garis keras, seperti Mawardi Noor dan Jamalulail penulis anggap sebagai sarana untuk mengobarkan semangat jihad dalam penegakkan hukum Islam.


Isu Penegakkan Syar’iah Islam dan Negara Khilafah

Pasca penyerbuan Komando Laskar Islam pimpinan Munarman, 1 Juni 2008 di Monas atas masa AKK-BB yang sedang memperingati Hari Jadi Pancasila. Penulis yang kebetulan sudah tidak lagi berada dibarisan Islam garis keras sungguh sangat terpukul, malu dan merasa terpanggil untuk berbagi pengalaman dan pemikiran dengan segenap anak bangsa agar lebih mencintai dan memahami arti pentingnya perdamaian dan persatuan bangsa.

Dalam analisa politik penulis, tindakan-tindakan anarkis FPI yang kerap mereka lakukan, sikap keras MMI dan HTI dalam menyuarakan penegakkan syari’ah Islam dan Negara Khilafah di Indonesia merupakan bagian dari aksi-aksi untuk mendukung diakomodirnya 8 kata dalam Jakarta Charter: …..dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya ke dalam system hukum negara.

Menurut hemat penulis, keinginan semacam itu jika tidak dibarengi dengan kesadaran, kelapangan dada dan keyakinan akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa akan berdampak negatif dan fundamental bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara di NKRI tercinta ini.

Yang menarik adalah apa yang ditulis oleh Dr. Moh. Mahfud MD, salah seorang anggota hakim Mahkamah Konstitusi dalam Surat Kabar Seputar Indonesia, 22 Januari 2008, halaman 6 dibawah judul Perekat Bangsa, Pembela NKRI diantaranya beliau menulis:

Pada awal Juni 2001, ketika ketegangan politik antara Presiden Abdurrahman Wahid dan MPR/DPR sedang memuncak, saya diminta untuk beberapa “tokoh militan” Islam untuk mempertemukan mereka dengan Presiden. Seperti diketahui, pada saat itu Gus Dur mengancam akan membubarkan MPR/DPR dengan dekrit karena dua itu telah melanggar konstitusi, sedangkan partai-partai politik, melalui MPR, mengancam akan melengserkan Gus Dur karena dianggap Tap MPR.

Sebagai menteri pertahanan, saat itu saya dianggap sangat dekat dan bisa berperan meminta Presiden menerima tokoh-tokoh militan itu. Ketika saya tanyakan kepada mereka, apa yang akan mereka sampaikan kepada Presiden, saya kaget dan agak bergidik karena mereka menjawab akan membela dan mempertahankan Gus Dur sebagai Presiden, asal Gus Dur mau mengeluarkan dekrit presiden tentang pemberlakuan syari’at Islam di seluruh Indonesia. Dalam tafsiran saya, mereka ingin menggunakan tangan presiden yang ketika itu sedang terjepit untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam.

Mereka mengatakan, jika Gus Dur mendekritkan berlakunya syari’at, maka berjuta-juta orang Islam akan datang ke Jakarta untuk membela Gus Dur, termasuk menghadapi tentara dan polisi jika mereka tak mau melaksanakan dekrit kepala Negara itu. Kata mereka, Gus Dur tak perlu mengeluarkan dekrit pembubaran MPR dan DPR, tetapi langsung saja mendekritkan berlakunya syari’at Islam agar dukungan umat Islam kuat baginya.

Saya menolak permintaan mereka dengan mengatakan bahwa presiden tidak tertarik dengan usul itu, padahal saya belum menyampaikan keinginan bertemu dan usul mereka kepada Presiden.

Pandangan NU

Ketika saya menyampaikan masalah itu kepada presiden dengan penjelasan seakan-akan saya belum menolak keinginan mereka, ternyata jawaban Gus Dur membuat saya plong. Gus Dur meminta agar saya tidak menghiraukan mereka. Kata Gus Dur, jika MPR tetap melanggar konstitusi dalam memperlakukan presiden, MPR tetap di bubarkan, tetapi dirinya tak akan pernah mengeluarkan dekrit untuk memberlakukan syariat Islam. ”Saya akan mempertahankan jabatan presiden sebagai hak konstitusi saya; lihat saja nanti presiden atau MPR yang jatuh. Tetapi tetapi saya tak akan pernah mendekritkan syariat Islam karena hal itu bertentangan dengan apa yang saya perjuangkan selama puluhan tahun, yakni mempertahankan Indonesia memiliki dasar Pancasila, bukan negara agama;” demikian Gus Dur menyatakan kepada mentri pertahananya.

Menurut Gus Dur, sikap finalnya tentang Negara berdasarkan Pancasila itu merupakan harga mati yang menjadi pandangan Nahdhatul Ulama (NU), berdasarkan ijtihad para ulama yang membidani dan membesarkan ormas Islam terbesar itu yang selalu ditegaskan setiap muktamar NU. Bahwa pandangan itu merupakan pandangan NU, bukan hanya pandangan pribadi Gus Dur, kiranya tak dapat dibantah. Pimpinan dan tokoh-tokoh NU lainya sejak dulu sampai sekarang selalu menyatakan sikap dan pandangan yang sama, yakni mempertahankan Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI)berdasarkan pancasila serta menolak eksklusivisme dan formalisasi hukum Islam.

Dalam menyikapi “day to day politics” misalnya, Gus Dur dan Hasyim Muzadi yang sama-sama tokoh NU boleh berbeda, tetapi dalam paham kenegaraan dan memosisikan Islam ealam hubunganya dengan NKRI kedua-duanya sama-sama nasionalis-religius dan penganut Islam inklusif khas NU.

Ketika kontroversi perda syariat merebak, ketua PBNU Hasyim Muzadi berteriak bahwa perda syariat tidak diperlukan karena ajaran Islam sudah hidup subur dikalangan umat Islam tanpa harus diberlakukan oleh Negara. Pemberlakuan hukum Islam secara formal-eksklusif melalui UU atau peraturan daerah hanya akan menimbulkan konflik politik yang dapat menggerogoti ikatan kebangsaan kita.

Ketika Hizbut tahrir Indonesia menyelenggarakan konfrensi khilafah Internasional pada 12 Agustus 2007, Hasyim Muzadi merupakan salah seorang yang mengkritik keras. Kata Hasyim, kalau konsep khilafah pasti akan mempersoalkan struktur ketatanegaraan dan Pancasila, sesuatu yang harus dilawan. Lagi pula, di Timur Tengah sendiri sekarang sudah tidak ada khilafah, karena hal itu sama sekali tidak operasional dan tidak dapat diterima.

Isu Pembubaran Ahmadiyah

Pasca penangkapan Rizieq Shihab, pimpinan Front Pembela Islam oleh polisi pada awal Juni 2008 dengan jelas kita saksikan bahwa isu yang segera dimunculkan secara besar-besaran adalah isu Pembubaran Ahmadiyah atau tuntutan SKB Pembubaran Ahmadiyah. Ada satu peristiwa yang sangat langka terjadi, dimana pada tanggal 6 Juni 2008 seorang tahanan, Rizieq Shihab diizinkan keluar tahanan dan berorasi di depan masa anti Ahmadiyah untuk menuntut pemerintah membubarkan Ahmadiyah, walaupun hasilnya hanya SKB tiga menteri yang hanya berisi peringatan keras terhadap Ahmadiyah untuk tidak menyebarkan ajarannya dan bahkan juga peringatan keras terhadap lawan-lawan Ahmadiyah agar jangan menyebarkan rasa permusuhan dan kebencian di tengah masyarakat ataupun berbuat anarki terhadap Ahmadiyah.

Penahanan Rizieq Shihab dan penyerahan diri Munarman (06/06/08) setelah beberapa hari buron telah membuat para tokoh Islam garis keras muncul ke permukaan, mereka serempak membela FPI dan menggalang kekuatan untuk mendesak pemerintah untuk segera membubarkan Ahmadiyah. Para pemimpin Islam garis keras baik yang berasal dari FUI, MMI, HTI, IM, GUI bahkan dari partai Islam seperti PPP dan PBB cukup cerdas memanfaatkan kondisi ini untuk menarik simpati umat Islam, terutama mereka yang masih berada diluar kelompok Islam garis keras.

Disamping itu, kelompok Islam garis keras telah memanfaatkan isu dan tuduhan penistaan agama oleh Ahmadiyah untuk memperbesar pengaruh mereka di masyarakat maupun di kalangan politikus partai-partai Islam agar mendukung gerakan mereka.

Isu Ahmadiyah sebenarnya bukanlah tujuan akhir dari gerakan kelompok Islam garis keras di Indonesia, karena tujuan akhir mereka adalah penerapan syari’at Islam secara kaffah menurut versi mereka di seluruh Indonesia. Jadi, dibubarkan atau tidak dibubarkannya Ahmadiyah oleh pemerintah, sama sekali tidak akan bisa menghentikan adanya pertentangan ideologi politik antara kelompok Islam radikal dengan kelompok Islam moderat, antara kelompok Islam radikal dengan kelompok nasionalis, dan kelompok Islam radikal dengan kelompok non muslim.

Adalah sangat mengkhawatirkan kita, ketika perjanjian luhur Bangsa Indonesia (Pancasila dan UUD 45) yang telah disepakati bersama pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan semangat Bhineka Tunggal Ika, jika dikhianati oleh sekelompok masyarakat yang menginginkan NKRI menjadi satu negara agama dengan cara-cara inkonstitusional dan anti demokrasi. Seharusnya, kita sebagai bangsa yang besar mampu bercermin kepada sejarah bangsa kita sendiri. Betapa ruginya jika kita harus mengulangi kembali kekeliruan-kekeliruan yang pernah dilakukan oleh DI/TII, PKI, dan gerakan-gerakan sparatis lainnya. Di era persaingan dan globalisasi yang sangat ketat ini, seyogianya kita tetap setia kepada Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia, yakni Pancasila dan UUD 45 agar energi bangsa kita tidak terkuras oleh pertarungan ideologi diantara sesama anak bangsa.

.

FRONT PEMBELA ISLAM MENODAI AGAMA

Jumat, 06 Juni 2008

8 komentar  

Oleh: Ki Waras Jagat Pakuan

Allah SWT. berfirman: ”Jadi dengan belas kasih (rahmat) Allah itulah engkau bertindak lemah lembut terhadap mereka. Dan sekiranya engkau kasar dan kejam, niscaya mereka akan bubar dari sekeliling engkau. Maka dari itu, ampunilah mereka dan mohonlah pengampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka mengenai urusan itu. Tetapi jika engaku telah mengambil putusan, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersandar kepada-Nya”. (Q.S. Ali Imran:158)

Anarkisme atas nama Islam di hari Pancasila, Monas, 01 Juni 2008

Islam Sebagai Rahmatan Lil’alamin Telah Dinodai dan Dilecehkan

Bagi kelompok Islam garis keras, ratusan ayat ”rahmat” (belas kasih) Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an tidak tampak di ”mata” mereka. Yang nampak di ”mata” mereka hanyalah tafsir beberapa ayat radikal dan kejam versi Khawarij dan Ektrimis Wahabi, yang mereka pahami secara salah baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Sungguh sangat tragis dan menyedihkan, walaupun Allah Ta’ala telah memulai Kitab-Nya dengan ayat rahmat: Bismillahirrahmânirrahîm (Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pemurah dan Maha Belas Kasih) tetapi ”mata” benar-benar telah buta sehingga isyarat Allah yang begitu terang dan jelas sekalipun luput dari pandangan mereka.

Mereka telah meninggalkan firman Allah Ta’ala: ”Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat (belas kasih) bagi sekalian alam”. (Q.S. Al-Anbiya’:107) Mereka juga tidak memperdulikan lagi firman Allah: ”Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai pengemban kabar gembira dan pemberi peringatan”. (Q.S. Al-Furqan:65)

Front Pembela Islam (FPI) dan organisasi-organisasi pendukung nya telah melanggar ajaran Islam dan missi Rasulullah SAW sebagai pemberi basy-syiran (kabar gembira) dan nadzîran (pemberi peringatan) belaka, dengan menempatkan diri mereka sebagai jabbâran (yang bertindak sewenang-wenang), qahhâran (pemaksa) hingga mereka merasa tidak bersalah ketika menganiaya orang lain dan berbuat kerusakkan (anarki) atas nama Islam.

Orang-orang FPI dan para pendukung perilaku anarkis mereka ”tidak mau mengerti” bahwa hamba Allah SWT. yang seberanya adalah sebagaimana yang dikemukakan Allah sendiri:”Adapun hamba-hamba Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menegur mereka, mereka berkata:’Salâman’/Damai!”. (Q.S. Al-Furqan:63) Mereka sungguh sangat angkuh, gemar menebar kebencian dan huru-hara atas nama Islam.


Anarkisme FPI dan Kelompok Radikal Islam Lainnya Telah Diramalkan Oleh Nabi SAW.

FPI/Komando Iaskar Islam Sedang Menodai ISLAM di Monas, 01 Juni 2008

Kemunculan FPI, MMI, HTI, JI, dan Al-Qaeda dan kelompok fundamentalis Islam telah di”ramal”(nubuwwat)kan Nabi SAW. Beliau bersabda: ”Akan datang atas manusia suatu zaman, ketika itu tidaklah menyisa dari Al-Qur’an melainkan tinggal tulisannya saja, tidak menyisa juga dari Islam melainkan tinggal namanya saja, orang-orang (dengan semangat fanatisme dan emosi) mereka menamai (segala sesuatu atau organisasi mereka) dengan nama Islam (yatasammauna bihi), padahal mereka itu orang-orang yang paling jauh dari Islam (ab’adunnāsi minhu), mesjid-mesjid mereka melimpah (dengan jamaah) padahal (pada hakikatnya) mesjid-mesjid itu bobrok dari petunjuk, fuqahā (ahli-ahli fiqih) pada zaman itu sejahat-jahat fuqaha di kolong langit, dari mereka muncul fitnah (huru hara), dan kepada mereka pula (akibat) fitnah itu akan kembali”. (H. R. Hakim dalam tarikhnya dari Ibnu Umar, dan Riwayat Ad-Dailami dari Mu’adz. Kanz ‘al-‘Ummāl, jilid XI, hadits no 31135)

Anarkisme FPI Menjiplak Budaya Khawarij

Salah seorang korban Anarkisme dan Kebrutalan Komando Laskar Islam/FPI Monas 01 Juni 2008 dari AKK-BB.

Anarkisme FPI dan kelompok Islam radikal di Indonesia sebenarnya mengadopsi manjah anarkis Khawarij di Irak yang telah berhasil membunuh Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib ra. dan telah membuat Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah SAW.) mengalami penderitaan dan penyiksaan yang berkepanjangan. Kejadian itu sebenarnya telah di”ramal”(nubuwwatkan)kan oleh Nabi SAW. Beliau bersabda: “Ya Allah, berkatilah dalam timbangan dan takaran kami, juga tentang Makkah dan Madinah kami, dan berkati pula Syam dan Yaman kami. Berkata seorang laki-laki: dan juga Irak kami. Rasulullah SAW . menjawab: “(bagi Irak tidak) karena padanya akan muncul generasi (sekutu, mata pedang, pemimipin, pengikut) syetan dan berkobarnya fitnah-fitnah (berbagai huru hara); sesungguhnya tabiat kasar (kekerasan) itu berada di timur.” (H.R. Thabrani dari Ibnu Abbas ra., Kanzul Ummal, 1989, jil. 12, hal. 300, hadits no. 35116)

Monas Berdarah 2008, aksi brutal dan biadab Komando Laskar Islam/Laskar FPI pimpinan Munarman atas para peserta aksi damai AK-BB pada peringatan Hari Pancasila, 1 Mei 2008 merupakan bentuk Penodaan Agama, Pancasila, dan Kemanusiaan. Isu Ahmadiyah yang dijadikan sebagai alasan penyerbuan hanyalah pengkambinghitaman, padahal alasan yang sebenarnya adalah ingin merontokkan kelompok kebangsaan yang dianggap oleh mereka menjadi penghalang bagi cita-cita mereka untuk mendirikan “negara syari’at” atau penegakkan hukum Islam secara kaffah di dalam wilayah NKRI. Suatu cita-cita yang sudah pasti akan mendapatkan perlawanan yang sengit dari para pembela NKRI.

Radikalisme Agama Bisa Menyeret Indonesia Kepada Perang Saudara

Jika radikalisme agama dan pemaksaan kehendak sebagian kelompok masyarakat terhadap yang lainnya dibiarkan hidup subur di NKRI, maka tidak mustahil Indonesia akan mengikuti nasib Afghanistan atau Pakistan dimana perang saudara dan kekerasan sektarian biasa terjadi.

Demikian juga usaha-usaha beberapa kelompok Islam untuk menghidupkan kembali Piagam Jakarta, pendirian negara khilafah, dan penerapan syari’at Islam (secara kaffah (menyeluruh) ‘ala Islam radikal akan berpotensi menimbulkan perpecahan bahkan perang saudara jika saja pemerintah tidak waspada dan tidak konsisten dalam memegang teguh Konstitusi Negara, Pancasila dan UUD 45.

Umat Islam semestinya harus mengambil ‘itibar atas perpecahan dan pertikaian yang pernah terjadi dalam sejarah panjang mereka. Kebiasaan buruk saling sesat menyesatkan, saling mengkafirkan dan merasa pemilik kebenaran tunggal adalah penyakit kronis umat Islam yang harus segera diamputasi dan dibuang jauh-jauh. Dalam hal ini Konperensi Islam Internasional yang diadakan di Arab Saudi pada awal Juni 2008 telah merekomendasikan agar umat Islam mengedepankan dialogh dalam penyelesaian masalah antar dan intern umat beragama dan menghindari jalan kekerasan, karena hanya akan menodai Islam. Alhamdulillah.

Negara Akan Ambil Tindakan Hukum

Minggu, 01 Juni 2008

1 komentar  

01/06/2008 20:00 WIB
Monas Rusuh
Jubir Presiden: Negara Akan Ambil Tindakan Hukum
Luhur Hertanto - detikcom

Jakarta - Penyerangan yang dilakukan massa FPI terhadap aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) di Monas dikecam kalangan Istana.
"Negara wajib melindungi warga negaranya. Dan karena itu, negara melalui aparat penegak hukum, mengambil tindakan hukum terhadap para pelanggar hukum," kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng (klik foto-foto FPI Serbu).
Hal itu dia sampaikan kepada detikcom, Minggu (1/6/2008).
Andi menjelaskan, Indonesia adalah negara hukum. Itu sebabnya, warga negara tidak boleh melakukan pelanggaran hukum terhadap warga negara lainnya.
"Apalagi sampai melanggar hak asasinya," pungkasnya.

Mas....SBY-JK itu khan duet b4nci kaleng, mana berani dia mah!!!

ANARKISME, “BIBIT RURUJIT” DALAM ISLAM

2 komentar  

Oleh: Ki Waras Jagat Pakuan

Fundamentalisme dan Anarkisme Dalam “Ramalan” Rasulullah SAW.

Hadits pertama, Rasulullah SAW. Bersabda: Allahumma bârik lanâ fî shô’inâ wa mudinâ wa makkatinâ wa madînatinâ wa bârik lanâ fî syâminâ wa yamaninâ, faqôla rojulun: wa ‘irôqinâ, qôla: Inna fîhâ qorna asy-syaithôni wa tahayyuja al-fitani; wa inna al-jifâ’a bilmasyiq.. Artinya: “Ya Allah, berkatilah dalam timbangan dan takaran kami, juga tentang Makkah dan Madinah kami, dan berkati pula Syam dan Yaman kami. Berkata seorang laki-laki: dan juga Irak kami. Rasulullah SAW . menjawab: “(bagi Irak tidak) karena padanya akan muncul generasi (sekutu, mata pedang, pemimipin, pengikut) syetan dan berkobarnya fitnah-fitnah (tuduhan, huru hara, bujukan, cobaan); sesungguhnya tabiat kasar (kekerasan) itu berada di timur.” (H.R. Thabrani dari Ibnu Abbas ra., Kanzul Ummal, 1989, jil. 12, hal. 300, hadits no. 35116)

Hadits kedua, Rasulullah SAW. Bersabda: Allahumma bârik lanâ fî syâminâ wa fî yamaninâ, qôlû: wa fî najdinâ, qôla: hunâka al-zilâzalu wa al-fitanu wa bihâ yathlu’u qornu asy-syaithâni. Artinya: “Ya Allah, berkatilah Syam dan Yaman kami. Para Shahabat berkata: dan demikian juga Nejd kami. Rasulullah SAW. bersabda: “(Nejd, tidak karena) di sana akan muncul kegoncangan-gegoncangan dan fitnah-fitnah (tuduhan-tuduhan, huru hara, bujukan, cobaan) dan di sana pula akan muncul generasi (sekutu, mata pedang, pemimpin, pengikut) syetan.” (H.R. Bukhari, Ahmad dan Nasai dari Ibnu Umar ra., Kanzul Ummal, 1989, jil. 12, hal. 300, hadits no. 35118).

Munculnya Khawarij dan Wahabiyah Menggenapi “Ramalan” Rasulullah SAW.

Subhanallah, “ramalan” (nubuwwatan) hadits pertama benar-benar telah genap, coba kita lihat awal mula munculnya gerakan fundamentalis dan anarkis dalam sejarah ummat Islam dengan munculnya sekte Khawarij. Khawarij adalah orang-orang yang keluar dari barisan Khalifah Ali bin Abi Talib, setelah khalifah ini menerima tawaran tahkim (arbitrase) uyang diajukan fihak lawannya, Mu’awayah bin Abi Sofyan, dan menghentikan perang Siffin (657/37 H) Menurut mereka, Khalifah Ali bin Abi Talib sebagai pihak yang benar seharusnya meneruskan perang Siffin itu sampai pasukan Mu’awiyah sebagai pihak pembangkang hancur atau tunduk kepada khalifah yang sah. Mereka berhimpun di Harura, dekat kota Kufah (di Irak) dan mengangkat Abdullah Ibnu Abdul-Wahhab ar-Rasibi sebagai imam (pemimpin). Dengan demikian mereka menjelma menjadi satu sekte atau golongan dalam Islam. Khawarij awal ini dikenal juga dengan golongan al-Muhakkimah, kerena mereka sering meneriakkan slogan “tidak ada hakam (hakim) selain Allah” dan “tidak ada hukum selain hukum Allah”. (Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992, hal. 553).

Syekh Muhyiddin Al-khoyyat menulis: Golongan Khawarij terkenal kaku dan berlebihan dalam masalah agama. Mereka mengafirkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka, menghalalkan darah orang yang berbeda pendapat dengan mereka dan tidak mau menerima ketentuan hukum yang dirumuskan manusia. Mereka mengafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar, mereka tidak mau menerima hadis Nabi yang tidak sama pengertiannya secara persis dengan Alquran dan mereka dalam memahami nash agama hanya dari sisi lahirnya belaka. (Sejarah Kebangkitan Islam Dan Situasi Dunia Arab, 1994, hal.118).

”Ramalan” Rasulullah SAW. Pada hadis kedua telah sempurna pula ketika munculnya Wahabiyah (Wahabisme) yang dimulai dari Uyainah di wilayah Nejd. Wahabiyah, adalah gerakan sosial-politik berdasarkan hukum Islam menurut alam pikiran pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Nejdi (1703-1787/1115-1201 H.

Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Nejdi dalam dakwah-dakwahnya yang sangat radikal, keras, kaku dan tanpa kompromi khususnya terhadap apa yang mereka anggap sebagai bid’ah dan khurafat mendapat perlawanan sengit bukan hanya dari kelompok Ahlussunnah, Kaum Shufi, Thariqat dan Syi’ah akan tetapi dari saudara kandungnya sendiri, Sulaiman, dan sepupunya Abdullah bin Hussein yang mengakibatkan pertumpahan darah antara suku-suku di Yamamah (tanah kelahiran Musailamah Al-kadz-dzab).

Pada periode pertama gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab mendapat dukungan penuh dari penguasa Dariyah, Muhammad bin Sa’ud dan para penerusnya yang terlibat peperangan dengan Syekh Riyad, Dahham bin Dawwas (1747 M) selama 28 tahun. Kemudian persekutuan Wahabiyah-Ibnu Sa’ud menyerang dan menaklukkan Riyadh, seluruh wilayah Nejd, Karbala (kota suci Syi’ah di Irak), Madinah, Makkah dan Jeddah. Pada tahun 1811 M. Imperium Wahabi telah terbentang dari Aleppo di utara ke Lautan Hindia, dari Teluk Persia di front Irak sampai ke Laut Merah di barat.

Imperium dan ekspansi Wahabiyah-Ibnu Sa’ud periode pertama telah menyebabkan kerugian tak terhingga atas jiwa, harta dan situs-situs budaya kaum muslimin dan baru berakhir setelah Dariyah, pusat gerakan Wahabi diduduki pasukan Ibrahim Pasya dari Kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1818 M. Penguasa Nejd, Abdullah bin Sa’ud ketika itu ditangkap, dikirim ke Constantinopel dan dihukum penggal di sana.

Periode kedua gerakan Wahabiyah dimulai tahun 1901, setelah Abdul Aziz II bin Abdurrahman didukung ulama-ulama radikal Wahabi dan Kolonial Inggris di Timur Tengah berhasil memasuki Riyad. Selanjutnya Abdul Aziz berhasil menguasai kembali tanah kekuasaan kakeknya, Nejd pada 1921, Hail, Makkah pada 1924, Madinah dan Jeddah pada 1925. Kekuasaan Wahabi dan Ibnu Sa’ud berlangsung sampai sekarang dengan dukungan Amerika, Inggris dan sekutu-sekutu mereka.

Umat Islam perlu mewaspadai politik adu domba antar umat Islam yang mungkin dimaikan oleh Israel melalui Rabithah Alam Islami, karena organisasi ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan penguasa Saudi Arabia yang sudah berada di dalam kendali Amerika Serikat dan Inggris sedangkan Amerika dan Inggris keduanya tunduk kepada Israel. Sejarah mencatat bagaimana perpecahan umat Islam telah terjadi akibat pemahaman yang sempit dan kaku tentang beberapa ayat Alquran dan Hadits yang menyebabkan munculnya budaya saling mencap sesat dan kafir, dimana pada gilirannya akan membuat energi umat Islam terkuras dengan kedua hal tadi, sedangkan Israel dengan dukungan politik dan finansial sekutunya akan lebih memperkuat cengkramannya atas Palestina .

Gerakan Neo-Khawarij dan Wahabi Anarkis di Indonesia Pasca Gerakan Reformasi

Pasca lengsernya Alm. Presiden Soeharto 1998 gerakan Neo-Khawarij dan Wahabi Radikal di Indonesia kembali mendapat angin segar dan mulai memperlihatkan jati diri mereka yang sesungguhnya, mereka secara terbuka membuat organisasi masa kegaamaan, menghidupkan isu-isu Khilafah, Syari’ah Islamiyah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar bahkan isu Negara Islam Indonesia.

Faham radikal, fundamentalis, dan anarkis Khawarij dan Wahabiyah telah banyak diadopsi oleh Jamaah Islamiyah (JI), Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI), dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka bertindak sangat berani dan arogan di tengah-tengah ketidak stabilan sistem politik dan hukum di Indonesia. Cita-cita untuk menerapkan Syari’ah atau Hukum Islam secara radikal di wilayah NKRI bagi mereka bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu dan tertutup.

Dipihak lain, mereka mendapatkan batu sandungan yang maha berat ketika harus menghadapi Ahmadiyah, karena Ahmadiyah adalah satu-satunya jamaah yang secara faktual dan yuridis telah menetapi sistem Khilafah non politik dengan berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Assunnah, sedangkan mereka mengkampanyekan khilafah politik (khilafah ”pepesan kosong”) yang secara dalil syar’i bukan zamannya lagi dan tidak mungkin bisa diwujudkan. Demikian ini telah disinyalir Rasulullah SAW. dalam hadits mutawatir maknawi, dimana beliau telah menjanjikan kedatangan Isa Ibnu Maryam secara majazi yang berarti bahwa khilafah di akhir zaman ini adalah al-khilafah ghairu siyâsiyyah (khilafah non politik).

Berbagai tindakan kelompok anarkis yang sangat mencoreng agama Islam yang Rahmatan Lil’alamin telah mereka lakukan, dengan teriakan Allahu Akbar mereka menyerbu dan merusak mesjid-mesjid, rumah dan bahkan menjarah properti orang-orang Ahmadiyah di berbagai daerah di Indonesia. Dahulu Khalifah Ali ra. menyindir kaum Khawarij yang anarkis sabda beliau:”Allahu Akbar, ucapan hak tetapi telah disalahgunakan”. (Sejarah Kebangkitan Islam Dan Situasi Dunia Arab, 1994, hal.119).

Sungguh sangat ironis dimana pada hari ini, Minggu, 01 Juni 2008 ketika semestinya segenap Bangsa Indonesia kembali bersyukur, merenung, dan mengenang kembali jasa-jasa Sang Proklamator Kemerdekaan RI yang telah menggali Pancasila dari bumi asli Indonesia. Ternyata malah dinodai oleh penyerangan, kebrutalan dan tindakan anarkis berdarah yang membabi buta dari gerombolan Front Pembela Islam (FPI) dan Komando Laskar Islam pimpinan Munarman atas Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang akan melakukan aksi damai Memperingati Lahirnya pancasila di Monumen Nasional. Media televisi dan cetak telah berhasil merekam dan memuat berita dan peristiwa penyerangan yang biadab itu, dimana para penyerang tidak lagi mampu membedakan mana orangtua, wanita dan anak-anak.

Sungguh, bagi seorang muslim penyerangan berdarah semacam itu akan merupakan suatu Penodaan Agama (Islam). Demikian juga bagi seorang nasionalis yang menghargai konstitusi negara hal itu akan merupakan penghinaan terhadap Pancasila, HAM dan bahkan NKRI yang dilakukan di depan Monumen Nasional yang kita banggakan. Semoga Pemerintah dan segenap Bangsa Indonesia segera menyadari bahaya di depan mata yang mengancam kesatuan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia harus berani menghentikan tindakan pelanggran konstitusi negara, hukum dan main hakim sendiri yang dilakukan oleh siapapun. Alhamdulillah Rabbil ’alamin.

Grand Mufti Suriah: Umat Islam Dunia Perlu Pelajari Kebhinekaan RI

Rabu, 28 Mei 2008

1 komentar  

Foto

Cipanas, 26/5 (Pinmas)--Grand Mufti Republik Arab Suriah, Dr. Ahmad Badruddin Hassoun mengatakan bahwa umat Islam dari seluruh dunia perlu belajar tentang kebhinnekaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.

"Saya menyaksikan berbagai pemeluk agama yang berbeda-beda dapat tumbuh dan berkembang memajukan suatu peradaban untuk kemajuan bersama," kata Mufti Besar Suriah itu di Cipanas, Sabtu.

Ahmad Badrudin Hassoun merupakan Ketua Majelis Fatwa Tertinggi Suriah. Di negerinya ia banyak memegang jabatan penting, di antaranya anggota dewan penasihat komisi internasional untuk mendekatkan madzhab dalam Islam.

Jabatan lain sebagai anggota pendukung intifadha dan perlawanan terhadap proyek Zionisme, pendiri Yayasan Sosial al-Furqon, Yayasan Dompet Kesehatan Masyarakat. Ia juga seorang pemikir dan aktivis dalam hubungan intra-agama dan antarperadaban.

Menurut pria kelahiran 1369 H/1949 M di kota Haib, Suriah itu, kunjungannya selama di Indonesia sejak 21 hingga 26 Mei telah membuat dirinya kagum. Ia sempat berdialog dengan para tokoh agama: Hindu, Budha, Kristen Katolik dan Protestan hingga pemuka agama Islam berpengaruh.

Ketika berada di Yogyakarta, ia dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC), menyempatkan diri berkunjung ke sejumlah pondok pesantren terkemuka seperti Gontor dan Krapyak, melihat kemajuan teknologi pembangunan pesawat di Bandung dan terakhir diterima Wapres Yusuf Kalla (24/5) dan dijamu makan siang di Istana Cipanas oleh Menag M. Maftuh Basyuni.

Sebagai umat Islam, ada tiga "kitab" yang harus dipelajari di Indonesia. Selain yang pertama Al Quran, kedua tentang alam semesta dan ketiga tentang manusianya. "Saya menemukan ketiga kitab tersebut ada di Indonesia," kata Hassoun.

Di Suriah, Hassoun dikenal sebagai pemegang otoritas keagamaan negara Sunni. Kendati begitu ia juga seorang relegious leader. Namun ia juga bisa memposisikan sebagai community leader, yang berfikir dan bersikap luas, lintas batas dan universal sebagai bagian dari kewargaan dunia.

Dalam penjelasannya kepada Menag, ia mengatakan, membaca "kitab" Indonesia amat menarik. "Karena itu, perlu pula membacanya secara komprehensif," jelas Hassoun.

Dubes RI untuk Suriah, H. M. Muzammil Basyuni mengatakan, di negerinya Hassoun termasuk mufti yang amat dihormati. Baik karena pemikirannya maupun upayanya dalam memajukan peradaban dunia, moderat, universal dan membawa rahmat bagi semua umat manusia.

Sementara itu Menag M. Maftuh Basyuni mengatakan, pihaknya berharap Mufti Besar Suriah itu dapat berkunjung lagi ke Indonesia dalam jangka waktu lama. Sesuai permintaan Wapres, kedatangan Hassoun ke berbagai tempat ibadah nanti diharapkan akan mendorong pencerahan bagi pembangunan peradaban dunia lebih maju.

Menanggapi permintaan itu, Hassoun menjawab, jangankan seminggu. Sebulan pun ia bersedia berada di Indonesia. Hanya saja, karena kesibukan, dalam waktu dekat ini saja ia harus memenuhi undangan umat muslim di Inggeris.
(es/ts)

Diupload oleh TS (-) dalam kategori Mentri Agama pada tanggal 26-05-2008 00:00

SYAHKAH KEISLAMANAN AHMADIYAH?

Kamis, 24 April 2008

2 komentar  

Oleh: Ki Waras Jagat Pakuan

Menurut Assunnah

Rasulullah SAW. bersabda: “Man shollā sholātanā wa istaqbala qiblatanā wa akala dzabīĥatanā fadzālika al-muslim alladzī lahu dzimmatullahi wa dzimmatu rasūlihi falā tukhfirūlloha fī dzimmatihi” (Barangsiapa shalat sebagaimana shalat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan sembelihan kita maka orang seperti itu adalah seorang muslim, baginya berhak mendapatkan perlindungan Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah kalian membatalkan (perjanjian) Allah dalam hal perlindungan-Nya itu)[1]. Tidak diragukan lagi bahwa Ahmadiyah shalat sebagaimana Shalat Rasulullah SAW., menghadap kiblat Rasulullah SAW. dan memakan sembelihan Umat Islam. Siapa yang berani melanggar syariat (hukum) Allah dan Rasul-Nya ini? Dan siapa yang berani mengkafirkan orang yang sudah dinyatakan keislamannya oleh Rasulullah SAW.? Na’ūdzubillah tsumma na’ūdzubillah jika masih ada orang yang karena ketaburannya berani menon-muslimkan orang yang telah dinyatakan Islam oleh Rasulullah SAW. Ketakaburan inilah nampaknya yang menjadi sumber azab dan bencana di dunia ini.

Rasulullah SAW. bersabda: Umirtu an uqŏtilannāsa hatta yaqūlū lā ilāha illallohu, faidzā qŏlūhā wa shollū sholātanā wa istaqbalū qiblatanā wa dzabaĥū dzabīĥatanā faqod hurrimat ‘alainā dimāuhum wa amwāluhum illā bihaqqihā wa hisābuhum ‘alallohi. (Aku diperintah untuk memerangi orang-orang [dalam kondisi perang] sampai mengucapkan “Tidak ada Tuhan selain Allah”, maka apabila sesorang telah mengucapkan ”lā ilāha illallohu, shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita, menyembelih sebagaimana kita menyembelih, maka benar-benar telah diharamkam darah dan harta-harta mereka [untuk dibunuh atau dijarah] keculia dengan sebab haknya [seperti karena membunuh atau tindakan kriminal lain] sedangkan perhitungan yang sebenarnya ada pada Allah [karena hakim bisa saja salah dalam menjatuhkan putusan]. Betul-betul sangat keliru jika ada tokoh-tokoh muslim radikal atapun teroris yang menghalalkan darah orang Ahmadiyah dengan sebab keyakinan akan datangnya nabi ghair musyarri’ (nabi yang tidak membawa syari’at), karena keyakinan semacam itu telah diyakini pula oleh para wali, seperti Asy-Sya’rani rh., Al-Jili rh., dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. As-Suyuthi berkata: Orang yang berprasangka itu berkata, ”tapi dalilnya adalah, ’Tidak ada wahyu setelahku’”. Kami berkata, ”Hadits ini dengan lafazh seperti ini adalah tidak benar”. Orang yang berprasangka itu berkata, ”Dalilnya adalah hadits, Tidak ada nabi setelahku”. Kami mengatakan: Kasihan sekali engkau, tidak ada dalil pada hadits ini dari sisi mana pun, karena yang dimaksudkan oleh hadits ini adalah: tidak muncul setelahku seorang nabi dengan syariat yang menghapus syari’atku, sebagaimana yang ditafsirkan oleh para ulama.[2]

Menurut Imam Syafi’i

Seandainya Imam Syafi’I rh. masih hidup, mungkin sekali beliau akan menjadi salah seorang Imam Mazhab yang menentang “Patwa MUI” tentang Pengkafiran Ahmadiyah. Kanapa demikian? Karena Ahmadiyah meyakini dan mengucapkan syahadatain (dua kalimah Syahadat), menetapi dan mengamalkan Rukun Islam dan Rukun Iman. Keyakinan Ahmadiyah sama sekali bukan keyakinan baru, melainkan keyakinan Islam yang hakiki yang digali berdasarkan bimbingan wahyu dan ilmu pengetahuan. Perbedaan antara Ahmadiyah dengan para penentangnya hanyalah terletak pada perbedaan Tafsir (tafsiran/interprestasi) atau Ta’wil (penakwilan/penjelasan) ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits Rasulullah SAW.belaka.

Imam Syafi’i, seorang Imam Mazhab yang pada masanya dituduh bahwa ia seorang pengikut Syi’ah pernah dinyatakan kafir dan sesat oleh lawan-lawan beliau. Oleh karena itu wajarlah jika Imam Syafi’i rh. dengan tegas menyatalkan: “Saya tidak mengkafirkan ahli ta’wil dengan sebab kekeliruan mereka”. Dalam riwayat lain: “Saya tidak mengkafirkan seorangpun dari ahli kiblat (yang shalatnya menghadap Ka’bah) dengan sebab kekeliruan mereka”. Dalam riwayat lain beliau berkata: “Saya tidak mengkafirkan ahli ta’wil, yang berpaling dari tekstual ayat Al-Qiur’an dengan sebab kesalahan (kekeliruan) mereka”.[3]

Oleh karena itu, kepada segenap Bangsa Indonesia (khususnya para pengikut Mazhab Syafi’i) untuk tidak mengikuti Fatwa MUI atau patwa ulama-ulama yang berani mengkafirkan Ahmadiyah karena Ahmadiyah dengan jelas dan nyata bahwa mereka adalah ahli kiblat, mereka tidak mempunyai kiblat lain selain Ka’bah di Makkah al-Mukarramah dan mereka tidak mempunyai kitab suci lain selain Al-Qur’an. Sekali lagi, Ahmadiyah dengan non-Ahmadiyah hanya beda Tafsir atau Ta’wil saja.Takutlah kepada Allah dan berhentilah mencap kafir kepada pengucap dua kalimah syahadat atau orang-orang yang shalatnya menghadap Ka’bah. Kita jangan mengambil resiko jadi kafir dengan sebab mencap kafir kepada mereka.

Tsunami Aceh

Tsunami Aceh

Azab dan Bencana Penganiayaan Ahmadiyah

Rasulullah SAW. bersabda:

  • “Takutilah do’a (kutukan) orang yang dizalimi, karena do’a (kutukannya) akan dibawa Malaikat ke angkasa (langit). Allah Ta’ala berfirman: ‘Demi keagungan dan kegagahan-Ku, pasti Aku akan menolong engkau (orang yang dizalimi) walaupun telah berlalunya masa (kutukan itu tetap akan turun) ”.[4]
  • “Takutilah do’a (kutukan) orang yang dizalimi, karena do’a (kutukannya) akan naik ke langit seperti percikan bunga api”[5]
  • “Do’a (kutukan) orang yang dizalimi mustajab (dikabulkan), walaupun orang itu seorang ahli maksiat karena akibat kemaksiatannya itu untuk dirinya”.[6]

Dalam hal ini, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. menerima wahyu: “Seorang pemberi peringatan telah datang ke dunia dan dunia tidak menerimanya, tetapi Tuhan akan menerimanya dan Dia akan menampakkan kebesaran-Nya dengan serangan yang dahsyat”.[7]

Penulis menghimbau kepada segenap elemen Bangsa Indonesia untuk dengan serius dan segera menghentikan dan menolak segala bentuk penganiayaan, penyerangan, pengrusakkan, dan penjarahan atas Ahmadiyah. Jika tidak, penulis khawatir azab dan bencana besar akan terus turun seiring dengan penganiayaan (penzaliman) terhadap Ahmadiyah itu.

Terakhir, kepada Forum Umat Islam (FUI) penulis sampaikan bahwa Bangsa Indonesia pada akhirnya akan tahu bahwa: Tuduhan “Penodaan Agama” yang kalian kemukakan, dalam istilah Sullamul Munauraq (mantiq) disebut HUJJAH SAFSATHIYYAH (argumentasi yang seolah-olah benar padahal salah alias akal-akalan) BELAKA. Untuk itu berhentilah menzalimi Ahmadiyah dan jangan terus-menerus mengundang azab dan kesengsaraan. Jadikan “kehancuran” Afghanistan, negeri yang telah merajam (menghukum mati) dua murid Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. sebagai pelajaran.

Alhamdulillahi Rabbil ālamiin



[1] Lihat, Abu Abdillah bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Darul Fikr, 2005, jilid 1, halaman 102, bab Fadhli istiqbālil qiblat..

[2] Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Turunnya Isa bin Maryam Di Akhir Zaman, terjemahan Abdurrahim Ahmad,Najla Press, Jakarta, 2008, hal 90-91.

[3] Yusuf bin Isnail an-Nahabani, asy-Syaikh, Syawāhidul haqq, Darul Fikr, Beirut, 1983, halaman 50. Dan Abdul Wahhab Sya’rani, asy-Syaikh, Al-Yawāqit wa Al-Jawāhir, al-Haramain, Singapura, tth, juz I, halaman 126.

[4] Hadits Riwayat Ath-Thabarani, Al-Jặmi’ Al-Shaghîr, Jilid I, halaman 28, hadits no 148.

[5] Hadits Shahih Riwayat Al-Hakim, Al-Jặmi’ Al-Shaghîr, Jilid I, halaman 28, hadits no 149.

[6] Hadits Shahih Riwayat Ath-Thayalis, Al-Jặmi’ Al-Shaghîr, Jilid I, halaman 648, hadits no 4204.

[7] Mirza Hulam Ahmad, Sirrul Khilặfah, Riyadhul Hindi, Amritsar India, 1312 H, halaman 1.